Arsip Penulis: jagawana80m

LINEAR AMPLIFIER 10 – 20 WATT

Beberapa rangkaian Linear Amplifier sudah pernah saya coba dan disajikan disini, yang terakhir ini yang SUPER MANSTABBB, cukup 3 tingkat tapi power bisa 10 – 20 Watt dengan input langsung dari Oscillator ( + Buffer juga dong hehehe . . . ).
Rangkaian merupakan comotan dari transceiver ARARINHA 4 oleh PY2OHH, skema sebagai berikut :

Sesudah dibuat PCB dan disolder berubah menjadi sbb :

KETERANGAN :

1.  Transistor 2N3904 yang pertama terasa hangat, sedangkan pada tingkat kedua yang berupa 2 transistor paralel terasa panas sekali sehingga perlu ditambahkan pendingin.  Anda dapat menempelkan transistor tersebut pada keping alumunium dengan menggunakan lem cyanoacrylate / super glue atau bisa seperti saya di gambar atas : transistornya dijepit dengan baut ke heatsink menggunakan potongan PCB kecil.

2.  Kapasitor 4n7 saya ganti 10 nF, kapasitor 82 pF saya pakai 100 pF, kemudian resistor 68 ohm saya tidak punya diganti 66 ohm pakai 2 x 33 ohm diseri.  Pengaturan bias untuk mosfet saya pakai trimpot kecil warna biru.

3.  Induktor 22 uH kebetulan saya punya berukuran 33 uH jadi dipakai saja.

4.  T1 menggunakan kawat tipis se-rambut digulung bifilar pada ferit bead.  Ferit ini saya dapat dari bongkaran trafo IF atau oscilator jadul, bentuknya dan ukurannya persis ferit pada koker coklat 8 mm hanya saja tengahnya berlubang.  Jika anda punya toroid dari bekas lampu hemat energi silahkan dipakai.  Cara membuatnya 2 helai Kawat email dipilin menjadi satu dengan panjang yang cukup, kemudian dililitkan melalui lubang di bagian tengah ferit secara merata sebanyak 8 lilit.  Buang lapisan email pada ujung2 kawat dan lakukan identifikasi keempat ujungnya menggunakan AVO meter, 2 kawat berseberangan yg tidak berhubungan dipilin menjadi satu untuk kaki bagian tengah.

5. T2 menggunakan toroid diameter 1 cm bekas lampu hemat energi.  Gulungan primer dibuat dari kawat email kira2 tebal 0,3 – 0,4 mm dililit merata pada toroid sebanyak 8 lilitan.  Gulungan sekunder dibuat dengan kawat email yang sedikit lebih tebal untuk membedakan, cara menggulung sama dengan lilitan primer termasuk dari mana mulai menggulung, hanya digeser sedikit saja sehingga gulungan sekunder ini bertumpuk di atas gulungan primer.  Gulungan dililit merata pada toroid sebanyak 4 lilit.  Cara memasang pada rangkaian persis seperti pada gambar skema, bagian atas pada toroid dapat bagian atas pada skema dan sebaliknya.

6. L1 sesuai skema dan pedoman perakitan yg asli dibuat pada toroid diameter 1 cm dengan kawat email yang cukup tebal untuk melewatkan arus sekitar 2 Ampere.  Saya sudah coba menggunakan kawat email tebal 0,7 – 0,8 mm pada toroid hitam diameter sekitar 2 cm dan toroid biru diameter 1,5 cm tetapi hasilnya induktor L1 ini menjadi sangat panas ketika rangkaian diaktifkan.  Akhirnya saya ganti menggunakan ferit tubing ukuran kecil/sedang (silahkan lihat pada foto di atas) dengan kawat email tebal sekitar 0,7  mm jumlah 8 lilit digulung merata melalui lubang tengah.  Dengan gulungan baru ini maka L1 tidak panas dan arus yang melalui Mosfet tidak berubah, bahkan terkesan Dummy Load lebih cepat panas.

7. L2 dililit pada ferit balun TV (hidung babi) kira2 setara dengan 3 atau 4 buah yang berukuran kecil dilem menjadi satu.  Saya menggunakan kawat email tebal 0,7 – 0,8 mm sebanyak 6 lilit dengan tap.  Cara membuat pertama digulung 3 lilit kemudian kawat dipuntir membuat tap selanjutnya digulung lagi 3 lilit.  Cara menghitung 1 lilit adalah ketika kawat email membuat 1 putaran U atau ujung kawat nongol di lubang sebelahnya.
Ketika L1 belum diganti ferit tubing maka L2 ini ikut menjadi panas ketika rangkaian diaktifkan, tetapi setelah dimodifikasi maka L2 menjadi sedikit hangat saja.

8. Penyetelan bias untuk Mosfet IRF540 dilakukan melalui potensio /trimpot 10 k.  Sebelum rangkaian diaktifkan maka trimpot ini diputar full ke kiri atau menuju ground.

a.  Hubungkan input RF ke ground, bisa disolder sementara.

b.  Pasang power supply 12 Volt pada rangkaian bertanda TX.

c.  Hubungkan titik Vcc ke bagian minus AVO meter, bagian plusnya ke power supply.  Atur pembacaan pada skala milli Ampere.

d.  Hidupkan power supply, cekleqqq . . . nyala ! ! !

e.  Perhatikan jarum AVO meter mestinya belum menunjukkan adanya arus.  Putar trimpot perlahan-lahan dan hati-hati, putar terus sampai jarum AVO meter bergerak menunjukkan arus 10 mA.

f.  Matikan rangkaian, rubah AVO meter pada setting pengukuran arus 10 A, sesuaikan juga colokan plus pada tempat yang sesuai untuk pengukuran 10 A.   Jika lalai maka anda bisa berkorban sebuah AVO meter mudah-mudahan amal anda diterima di sisi-Nya hehe . . .

g.  Buka solderan pada input RF yang tadi dihubungkan ke ground, sekarang dihubungkan ke oscillator atau exciter.

h.  Hubungkan output RF ke DUMMY LOAD 50 ohm  JANGAN LUPA ! ! !

i.  Hidupkan power supply dan oscillator atau exciter,  cekleqqq lagi deh.

j.  Perhatikan AVO meter, jarum akan menunjukkan pada kisaran angka arus 1 Ampere (mungkin 800 mA, bisa juga 1,2 A pokoknya dilihat saja).  Untuk memastikan coba diraba L1, L2 dan Dummy Load mestinya ada yang terasa hangat atau panas.  Demikian pula heatsink Mosfet akan terasa hangat.

L1 dan L2 mungkin sedikit hangat sedangkan Dummy Load mungkin agak panas kalau anda bisa merabanya.  Kalau sudah terasa hangat berarti tinggal mencoba kualitas pancarannya, tidak akan dibahas disini.

k.  Menurut keterangan PY2OHH dengan arus drain 1 Ampere maka output adalah 10 Watt sedangkan jika arus drain 2 Ampere outputnya 20 Watt.

Pada eksperimen di atas saya belum menghubungkan output rangkaian dengan Low Pass Filter ( L3 dan 2 buah kapasitor = 470 pF untuk band 40 m.  Untuk band 80 m PY2OHH mencantumkan nilai L = 2,2 uH dan kapasitor 2 buah masing-masing 1000 pF).  Rangkaian dihubungkan langsung ke Dummy Load 50 ohm 2 Watt dan dalam waktu singkat berasap dan menghitam hehehe . . .

Besarnya arus drain bisa distel dari tegangan bias mosfet, saya bisa stel sampai 2 Ampere tidak diteruskan, takut mosfetnya meletus karena heatsink terasa cukup panas.
Sedikit catatan : PY2OHH menyarankan untuk kapasitor 100 nF dan 2 x 470 pF pada bagian output menggunakan yang tegangannya sekitar 100 Volt atau lebih.

Selamat mencoba.

UPDATE :

Dicoba menggunakan  input sinyal AM dari MC1496, linier pada arus drain 150 s/d 500 mA sehingga power output sekitar 2 – 5 Watt.  Lumayan juga sudah membuat dummy load 50 ohm 4 Watt berubah warna dari semula abu-abu tua menjadi coklat pucat disertai semerbak wangi khas resistor panas hehe . . .

UPDATE :
Saya membuat rangkaian ini kedua kalinya untuk BITX pada 80m band, dengan L2 menggunakan inti ferit binokular/hidung babi bongkaran dari balun TV yang dijual terpisah dalam casing plastik warna hitam,  tiga buah dilem jadi satu.  Ternyata L2 menjadi panas sekali.  Setelah diukur induktansinya rendah sekali dibandingkan menggunakan toroid binokular beneran.  Akhirnya L2 saya gulung pada ferit tubing, arus yang diambil tanpa modulasi sekitar 60 mA dan sampai 1,7 A ketik diberi modulasi , output RF masih sebanding tidak ada penurunan dan L2 hanya hangat saja.
Linier atau tidak outputnya masih saya test lagi, masih harus bikin DC receiver untuk monitor pancarannya dari Bitx.

z

FREQUENCY DOUBLER

Selama ini saya melakukan eksperimen terutama di 80 m Band, tetapi melihat contoh rangkaian yang beredar serta perkembangan akhir-akhir ini ingin juga mencoba di 40 m Band.  Namun demikian yang menjadi kendala bagi saya adalah belum ada oscillator sesuai band tersebut, kalaupun akan mencoba dengan oscillator kristal saya tidak punya yang frekuensinya sekitar 7 MHz. Untuk membuat VFO khusus band tersebut  saya masih malas jadi saya mencari tahu apakah mungkin rangkaian oscillator yang saya punya dimanfaatkan pada band 40 m dengan kata lain harus dilipatduakan frekuensinya.
Cari punya cari banyak juga rangkaian Frequency Doubler tapi ada satu yang saya rasa tidak rugi untuk mencobanya disamping komponennya sedikit juga semuanya ada di laci saya dan cukup mudah membuatnya.

Berdasarkan artikel dari Charles Wenzel “Switching Diode Frequency Doublers” dan Bill Tracey   “Frequency Doubler for DDS Daughter Card and Softrock 40″ saya membuat rangkaian sebagai berikut :

T 1 digulung pada ferit balun TV atawa ferit hidung babi, disini saya pakai 2 biji dilem jadi satu.  Gulungan menggunakan kawat email kira2 diameter 0,2 mm.  Bagian primer yang dihubungkan ke input RF terdiri dari 10 lilit, dan bagian sekunder 20 lilit bifilar ( 2 kawat dipilin jadi satu, kemudian digulung bersama 20 lilit ).  Tap tengah adalah ujung lilitan A ketemu pangkal lilitan B seperti pada pembuatan balun 4 : 1.

Dioda yang digunakan bisa menggunakan dioda switching seperti 1N4148 atau 1N914, pada rangkaian ini saya pakai dioda germanium ( DUG ) dua buah.

RFC bisa bernilai sekitar  100 uH, kebetulan saya punya RFC 2,5 mH 100 mA jadi ya dicoba saja daripada menggulung lagi.  Kabarnya RFC 100 uH bisa dibuat menggunakan resistor 1 M ohm dililit kawat email halus yg sesuai jumlah 150 lilit tapi saya belum mencobanya.

Kapasitor output pada skema aslinya adalah 47 pF kebetulan waktu nyolder di dekat saya tergeletak kapasitor 100 pF  1 kV ya sudah dipasang saja biar gampang nyoldernya gak perlu cari2 kapasitor kecil hehehe . . .

Komponen yang sudah disolder seperti ini :

HASIL EKSPERIMEN :

Input rangkaian dihubungkan dengan output oscillator + driver, pada frekuensi 3,5 MHz sampai 4,3 MHz (diukur dengan Frequency counter bawaan FLL), dan outputnya diukur dengan Frequency Counter beneran.  Hasilnya frekuensi output benar-benar persis 2 kali frekuensi input.
Bagaimana bentuk gelombangnya apakah ada perubahan ?  Saya tidak tahu, oscilloscopenya ada tapi berada di tempat lain jadi belum bisa saya pakai untuk mengecek.  Saya kira apabila rangkaian ini akan digunakan untuk sekedar mencoba rangkaian receiver di 40 m Band tetap akan berfungsi dengan baik.
Selamat mencoba.

 

CATATAN  :

Sedikit peringatan dari senior bahwa output rangkaian ini bukan hanya 2 x F input tapi juga mengandung harmonik lain dengan level yang lebih rendah, sehingga jika akan digunakan di luar eksperimen harus ditambah rangkaian band pass filter.

Dengan dilipatduakan frekuensi input maka dalam hal tuning akan sedikit mengalami kesulitan karena perubahan frekuensi pada output lebih besar. Dengan demikian pada rangkaian oscillator /  input harus ada Fine Tuning yang memadai.

 

z

MODULATOR AM – MC1496

Pemancar radio dengan sistem modulasi amplitudo ( AM ) sangat digemari oleh homebrewer karena kesederhanaannya. Pada umumnya sinyal RF atau carrier yang dibangkitkan oscillator diperkuat sampai mencapai level daya yang diinginkan baru kemudian pada tahap penguat akhir dilakukan modulasi dengan sinyal audio. Dengan sistem ini maka pengolahan sinyal pada tahap driver tidak terlalu kritis sehingga bisa digunakan penguat kelas C demikian pula pada penguat akhirnya. Sistem ini membutuhkan modulator berupa penguat audio dengan daya besar termasuk penyediaan power supply yang bermutu baik dan trafo modulasi ataupun modulator seri yang pada prakteknya pembuatannya tidak sesederhana yang kita bayangkan.
Pada eksperimen ini saya mencoba menggunakan sistem modulasi amplitudo level rendah (Low Level AM) dimana modulasi diberikan pada carrier yang baru dibangkitkan oleh oscillator + buffer, dengan keuntungan kita tidak perlu membuat amplifier audio berdaya besar termasuk power supply dan trafo modulasinya. Sistem ini membutuhkan driver berupa Penguat Linier (Linear Amplifier) demikian pula untuk penguat akhir / Final harus yang bersifat linier pula. Mengingat akhir-akhir ini sudah banyak rekan yang menggunakan mode SSB dan sudah banyak skema penguat linier maupun Final yang bisa dipergunakan maka pembangkitan AM pada level rendah ini patut dicoba.

Skema rangkaian yang saya coba :

Sumber sinyal audio saya gunakan Mic Pre-amplifier dari pak Indra S. Ekoputro yang sudah dilengkapi Low Pass Filter 3 kHz sebagai berikut :

Hasil solder menyolder sebagai berikut :

HASIL EKSPERIMEN :

1.  Potensio untuk mengatur level carrier maupun audio sangat diperlukan, karena kualitas modulasi tergantung keseimbangan input RF dan audio.  Terdapat level RF maksimal yang memberikan hasil terbaik, tidak berarti jika RF diatur maksimum maka hasilnya akan maksimal pula.

2.  Kualitas audio medium cenderung ke arah bass, dibandingkan dengan carrier-nya terdengar “NENDANG” atau seolah-olah powernya lebih besar.

3.  Output AM Modulator ini frekuensinya langsung mengikuti oscillator.  Berbeda dengan rangkaian menggunakan NE602 yang sudah saya coba dimana outputnya menggunakan rangkaian LC untuk tuning, ternyata output bisa berbeda frekuensinya dengan frekuensi oscillator tergantung tuning rangkaian LC-nya.  Modulator dengan MC1496 lebih praktis tidak perlu kuatir ada perubahan frekuensi.  Kalaupun ada pergeseran mungkin hanya sedikit saja saya belum sempat mengukurnya.

4.  Sangat direkomendasikan untuk yang sudah punya pemancar SSB atau sudah punya penguat linier, atau untuk rekan yang malas membuat audio amplifier dan menggulung trafo modulasi.

Selamat mencoba.

 

UPDATE :

Jika anda kurang suka “tone” yang cenderung nge-bass silahkan merubah kondensator 100 uF setelah potensio input audio pada rangkaian modulator AM MC1496 menjadi 47 uF dan bandingkan sensasinya yang berbeda.
z

PENGUAT LINIER / LINEAR AMPLIFIER

Penguat linier pada umumnya dibutuhkan orang untuk memperkuat sinyal SSB atau DSB sebelum dipancarkan dengan power besar. Mengapa demikian ? Karena dalam sinyal yang dibangkitkan telah terkandung informasi berupa sinyal yang sinkron dengan modulasi audio sehingga informasi ini harus tetap utuh ketika dipancarkan, tidak berubah bentuknya sejak dibangkitkan pada exciter sampai dipancarkan melalui antenna. Jenis penguat yang tetap mempertahankan bentuk informasi mulai tahap awal sampai tahap akhir ini dinamakan penguat linier.
Kali ini saya mencoba eksperimen dengan penguat linier, disamping karena saya ingin juga mencoba membuat pemancar DSB (Double Side Band – Supressed Carrier) atau juga SSB (Single Side Band), terutama disebabkan saya ingin mencoba membuat pemancar AM dengan pembangkitan melalui Low Level Modulation. Sinyal RF – carrier – dimodulasi pada power kecil sehingga tidak membutuhkan rangkaian amplifier audio dan trafo modulasi untuk rangkaian modulatornya. Saya menggunakan rangkaian IC MC1496 sebagai AM Modulator selanjutnya masuk ke penguat linier dengan power rendah yang kemudian akan masuk penguat Final yang sifatnya juga linier.

Saya sudah mencoba beberapa skema penguat linier tetapi hasilnya kurang memuaskan.  Rangkaian yang sudah saya coba dan hasilnya cukup baik sebagaimana gambar di bawah ini :

Skema rangkaian sebagai berikut :

HASIL EKSPERIMEN :

1.  Rangkaian di sekitar TR1, TR2 dan TR3 cukup sederhana dan mudah dibuat.  T1 digulung biffilar pada ferit balun TV, stock saya 2 buah ferit balun dilem jadi satu tetapi mestinya menggunakan 1 ferit balun saja sudah cukup.  TR3 terasa agak hangat kalau akan diberi heatsink silahkan saja tetapi tanpa heatsink pun tidak apa-apa.  Pada gambar tampak TR3 dibaut pada tembaga PCB semula disambung pada heatsink tapi akhirnya saya lepas saja karena tidak terlalu panas.  Sinyal output agak lemah tetapi tidak ada distorsi.

2.  Rangkaian di sekitar Mosfet adalah rangkaian standar, bias cukup pakai dioda zener tidak perlu IC regulator sudah cukup.  Saya pakai 2 buah dioda zener 5V6 diparalel.  L1 adalah RFC dan nilainya tidak kritis.  Kebetulan saya punya ferit tubing kecil dibuat koil 10 lilitan ketika diukur ternyata induktansinya sekitar 500 uH.  Kalau anda punya RFC 2,5 mH silahkan dipergunakan menggantikan L1.

3.  Penyetelan bias Mosfet tanpa sinyal pada rangkaian aslinya dianjurkan untuk menyetel P1 sampai didapat arus Drain sebesar 50 mA.  Pada prakteknya untuk IRFZ 20 agak sulit karena ketika arus mendekati 50 mA dan P1 diputar sedikit arusnya langsung melonjak sampai mendekati 150 mA.  Akhirnya bias disetel dalam keadaan ada sinyal sambil dipantau outputnya pada radio kempitan.  Dalam pengetesan dapat disolderkan sementara kabel sepanjang 100 – 200 cm pada kapasitor output yang berfungsi sebagai antenna pancar.

4.  Penyetelan tegangan bias dapat menimbulkan arus drain yang cukup besar sampai dengan 1 – 2 Ampere demikian pula power RF output cukup besar.   Heatsink Mosfet juga menjadi panas sekali.  Namun demikian ketika dimonitor penerimaannya banyak sekali harmonik yang timbul baik di atas maupun di bawah frekuensi osilator sehingga tegangan bias diturunkan sedikit demi sedikit sehingga diperoleh frekuensi yang bersih dari harmonik dan modulasi yang bagus.  Nilai optimal penyetelan bias adalah pada output arus Drain antara 100 mA sampai dengan 200 mA dalam kondisi ada sinyal, saya pilih sekitar 175 mA.  Heatsink Mosfet hanya terasa hangat sehingga belum perlu ditambahkan kipas pendingin.

4.  Daya DC yang diserap pada Mosfet sekitar 0,15 A x 12 Volt = 1,8 Watt.  Penguat Mosfet ini bekerja padaa kelas AB diasumsikan efisiensi sekitar 60 % maka daya RF adalah sekitar 1,08 Watt.

5.  Impedansi output Penguat Linier adalah (Vcc) kuadrat dibagi daya output = 144 / 1,08 = 133 ohm.  Apabila diinginkan impedansi output 50 ohm maka perbandingan impedansi adalah 133/50 = 2,66.  Perbandingan jumlah lilitan adalah akar kuadrat 2,66 = 1,6.  Artinya lilitan untuk impedansi output Mosfet adalah 1,6 kali jumlah lilitan untuk output 50 ohm.  Namanya juga eksperimen dan saya punya koker 8 mm maka jumlah lilitannya harus muat di koker tsb saya coba saja perbandingannya 1,5 jadi lilitannya 12 lilit ke 50 ohm dan 18 lilit ke output Mosfet.  Ketik saya pasang resistor 47 ohm 2 Watt ternyata terasa panas ya …. kira-kira pembuatan L2 sudah mendekati betul begitu Bro.  Gitu aja kok repot hehehe . . .

6.  Jika anda akan menggunakan langsung untuk pemancar silahkan menambah Low Pass Filter, dan jika ingin power lebih besar bisa menggunakan jenis Mosfet lain yang sesuai dan tegangan ke Drain Mosfet dinaikkan.  Untuk IRFZ 20 tegangan maksimal 15 Volt saja kebetulan ada di laci saya dan tujuannya memang hanya untuk mengumpan power ke Final.

Selamat Mencoba.

RALAT :

Tr3 adalah 2SC1162, kok bisa angka 6 tertukar angka 9 ya hehehe . . .

 

CATATAN :

Ketika dilaksanakan percobaan dengan arus Drain yang besar menimbulkan banyak harmonik ternyata ketika diukur frekuensi output sekitar 7 – 8 MHz sementara frekuensi oscillator antara 3,7 – 4 MHz.  Setelah arus Drain diturunkan sampai 200 mA ternyata frekuensi output kembali normal seperti frekuensi oscillator.  Pantas saja selama ini eksperimen penguat linier sering gagal ternyata tetap harus dilakukan pengukuran-pengukuran.  Repot Bro.

 

z

Antenna COBRA

Percobaan membuat antenna Cobra diilhami artikel Raymond A. Cook ( W4JOH ) dimana beliau menggunakan 3 kabel dan feeder berupa Ladder Line 450 ohm. Saya membuat dengan menggunakan 4 kabel setelah membaca artikel Rick Littlefield ( K1BQT ) yang mencantumkan ilustrasi antenna Cobra selain menggunakan 3 kabel juga bisa menggunakan 4 kabel.
Nama Cobra sendiri katanya diambil dari bentuk antenna yang meliuk seperti huruf S, mirip ular kobra “in action ” akan mematuk mangsanya mungkin begitu ya hehehe . . .

Teorinya antenna ini termasuk kategori Linear Loaded Dipole dan umumnya tidak dirancang sebagai antenna yang resonan. Dalam penggunaannya disarankan untuk melengkapi dengan Antenna Tuner Unit ( ATU ).

Dalam percobaan ini agar tetap terarah maka saya tetap menggunakan patokan panjang gelombang 80 m sebagai acuan, dimana panjang total dipole 1/2 lambda seharusnya sekitar 38 meter. Panjang ini dibagi 4 kabel sehingga bentangan total seharusnya 9,5 meter. Saya pikir karena tidak harus resonan ya sekalian saja dibulatkan jadi panjang total 10 m, masing-masing sayap panjangnya 5 m.

Bahan antenna saya pakai kabel speaker yang berukuran cukup besar, isinya kawat serabut tembaga yang terbungkus bahan plastik. Setiap satuan panjangnya terdiri dari 2 kabel paralel sehingga untuk mendapatkan antenna Cobra dengan bentangan total 10 m dibutuhkan 20 m kabel speaker. Kabel tersebut dipotong menjadi 4, masing-masing sepanjang 5 m.
Sayap kanan terdiri dari 2 potong kabel disusun paralel, demikian juga sayap kirinya. Ujung-ujung kabel dihubungkan seperti pada ilustrasi gambar dan foto di bawah ini.

Ilustrasi sambungan bagian tengah :
*  Kabel 1 tidak terhubung

*  Kabel 2 terhubung dengan kabel 3

*  Kabel 4 akan dihubungkan ke saluran transmisi  -  Feeder atau Ladder Line
alias  Tangga Monyet

Ilustrasi sambungan ujung :

*  Kabel 1 dihubungkan dengan kabel 2

*  Kabel 3 dihubungkan dengan kabel 4

Cara menyambungkan dan pakai bahan apa terserah Anda.  Cara yang saya pakai pada ilustrasi di atas untuk jaga-jaga barangkali akan dipasang pada tempat yang tinggi sehingga bisa di-baut pada bahan isolator yang cukup kuat untuk selanjutnya dibentangkan di antara 2 tiang pendukung.

Saya masih berencana untuk eksperimen dengan pemancar sehingga antenna belum digantung tinggi-tinggi, cukup diletakkan dengan tumpuan kaso / usuk di bawah genting pada ketinggian sekitar 2,5 m dari tanah.

Tepat sebelum antenna saya pasang balun 4 : 1 terdiri dari 9 lilit kawat email 1 mm digulung bifilar pada pipa pralon diameter 2 inch, spasi antar lilitan kira-kira 5 mm.  Dari balun ini menuju ke transmitter / receiver langsung menggunakan kabel coax RG 58 impedansi 50 0hm.  Silahkan lihat gambarnya ya Om . . .

Nah, begitulah hasil sementara eksperimen antenna Cobra.  Percobaan untuk penerimaan dengan menghubungkan langsung kabel tengah coax ke antenna radio kempitan menghasilkan penerimaan yang lebih baik dibandingkan menggunakan antenna Box-Loop jemuran handuk.

Percobaan untuk transmit . . . . kita tunggu update selanjutnya.

Selamat mencoba.

 

z

VARCO LOYANG

Banyak rekan kesulitan mencari varco logam khususnya yang mempunyai spasi antar pelat cukup lebar.  Biasanya varco jenis ini digunakan untuk tuning bagian Final pemancar sebelum masuk ke Antenna.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membuat varco dengan bahan pelat alumunium tipis, asal bahan dari loyang persegi yang biasa digunakan kaum ibu untuk membuat kue kering.  Kalau anda punya akses membeli pelat alumunium lembaran ya tidak usah pakai loyang hehehe . . .

Dimensi varco loyang yang saya buat adalah 12 cm x 10 cm x 6 cm, terdiri dari 12 pelat rotor dan 13 pelat stator.  Penyambung antar pelat dan poros tengah adalah spacer panjang 1 cm yang biasa digunakan untuk menyangga PCB atau kit rangkaian elektronika pada saat pemasangan pada box-nya.

Pengukuran menunjukkan nilai kapasitansi 45 pF – 140 pF, lebar spasi antar pelat 3 – 5 mm, sudah cukup lebar untuk tuning bagian Final pemancar dan dijamin tidak akan menimbulkan cipratan bunga api.

Apabila dibutuhkan kapasitansi yang lebih besar dapat disiasati melalui penambahan kapasitor paralel, dianjurkan yang bertegangan tinggi (saya pakai antara 100 pF sampai 470 pF / 1 kV di switch pakai saklar putar.

Cara pembuatan silahkan dibayangkan dari foto-foto berikut ini :

Tampak depan ni Bosss

Tampak belakang dan detail pelat kontak pada bagian poros/as.  Pelat diambil dari bagian dalam stop kontak listrik.

Detail penggunaan spacer.  Seandainya ada yang lebih pendek dari 1 cm kapasitansi bisa sedikit dinaikkan.

Begitulah kira-kiranya ya Bro, tetapi harap diingat bahwa mekanisme putaran varco ini tidak sehalus buatan pabrik sehingga kurang cocok kalau dipakai untuk tuning oscillator ( Oscillator apa yg butuh varco segede ini ya hehehe . . .)

Selamat mencoba.

PIC Programmer / Downloader

PIC adalah satu set komputer yang dikemas dalam sebuah IC. IC PIC digunakan dalam rangkaian radio antara lain untuk Frequency Counter, Frequency Locked Loop untuk mendapatkan oscillator yang stabil, SWR Meter dan lain-lain. Potensi penggunaan PIC tidak terbatas dan semua tergantung program yang disusun dan dimasukkan ke dalam memory-nya.
Bentuk program yang diinjeksikan ke dalam PIC adalah berupa file HEX dan alat yang digunakan untuk memasukkan program ke dalam memory PIC disebut PIC Programmer atau PIC Downloader. Banyak sekali macam PIC Programmer yang bisa anda peroleh skemanya dari internet, termasuk juga yang sudah berupa kit, namun demikian saya mencoba membuat satu dan sudah berhasil dicoba yaitu yang ada di bawah ini.

Rangkaian dibuat berdasarkan skema MkV PIC Programmer bisa dilihat referensinya disini :

http://talkingelectronics.com/projects/Pic%20ProgrammerMkV%2012%20Parts/PicProgrammer-12Parts.html

Perlu diperhatikan ketika membuat rangkaian ini disarankan sambil  melihat ilustrasi berupa gambar yang dicantumkan karena gambar sket terminal DB9 pada skema adalah penomoran lubang tampak depan sedangkan penyolderan kabel adalah pada bagian belakang soket.

Catatan :  Dalam percobaan ini di laci saya tidak ada resistor 4k7 jadi saya pakai resitor 3k9.  Saya juga tidak punya 15k jadi saya pakai 12k.  Bisa  juga tuh hehehe . . .

Pic Programmer di atas dipasang pada serial port Personal Computer.

Saya menggunakan OS Windos XP Service Pack 3 dan software yang digunakan adalah WinPic800.

http://www.winpic800.com/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=18&Itemid=64&lang=en

Setelah instalasi silahkan pilih bahasa yang digunakan sehingga tampilan program dapat dipahami.  Selanjutnya masuk ke setting hardware pilih jenis “JDM Programmer”, siap digunakan.
Keuntungan menggunakan WinPic800 adalah kita tidak perlu menginstall program atau utility sistem tambahan, berbeda dari program IC-Prog, misalnya.

Jenis IC yang telah saya coba untuk diprogram adalah PIC 16F84A  dan 16F628A  tanpa kesulitan untuk menghapus, memasukkan program maupun proses verifikasi dan membaca hasilnya dapat dijalankan dengan lancar.

UPDATE :

Saya menggunakan mode “Verify during programming” dengan hasil proses lebih lambat tetapi seluruh tahap pemrograman dapat diverifikasi dengan baik. Artinya kita lebih yakin bahwa setiap tahap sudah berhasil dan IC  PIC pasti terprogram sesuai file HEX-nya.

Selamat mencoba.

Software Defined Radio ( SDR )

Penasaran dengan wacana radio SDR yang digulirkan rekan senior amatir radio membawa saya mencoba membuat sebuah. Untuk permulaan masih berupa radio penerima dengan dasar rangkaian penerima HF Monoband tipe DR2C dari om Tasic Sinisa / Tasa ( YU1LM ).
Rangkaian skema asli tampak rumit tetapi sesudah diterjemahkan kepada bentuk fisik IC menjadi lebih sederhana. Selain IC CMOS yang digunakan maka komponen lainnya berupa komponen yang mudah diperoleh dan murah harganya, bahkan IC-nya juga murah saja harganya.
Prototipe rangkaian dibuat pada papan PCB dengan metode Ugly SMD, komponen disolder langsung pada jalur tembaga tanpa ada proses pengeboran. Ukuran sengaja tidak dibatasi untuk kemudahan pengerjaan dan untuk modifikasi lebih lanjut.

Kebetulan saat membuat ini saya tidak punya koil / induktor 100 uH jadi saya ganti pakai koil IF 455 kHz warna hitam, kapasitor aslinya dibuang.  Saya ukur induktansinya 600 uH dipakai saja tidak terlalu berpengaruh.

Rangkaian sudah dicoba menggunakan antenna random wire 23 m, oscillator lokal Vackar 3,2 – 7,8 MHz dan software SDRadio ( dikembangkan OM Alberto I2PHD ), pada Netbook Toshiba NB305, OS Windows7 Starter.  Output SDR dihubungkan ke Mic input ( mono ) sehingga pengaturan belum bisa optimal.

Hey, it works ! ! ! !

Banyak yang malas bikin rangkaian ini karena katanya terlihat rumit pada skema aslinya.  Coba lihat hasil saya di atas kan tidak rumit.

Skema yang sudah disederhanakan silahkan dilihat berikut ini :

Bersambung berikut ini :

Bagaimana, tidak rumit kok asal disolder satu persatu jangan sekaligus semuanya.

Dicoba aja Bro, bisa kok punya SDR yang murah.

UPDATE : 

Saya ganti software HDSDR dan pada pengaturan soundcard komputer masuk pada Line In, bukan Mic.  Ternyata hasilnya jauh lebih bagus dan bisa monitor dengan baik.

QRP TX #2, Power = 3 Watt

Dasar rangkaian yang saya gunakan kali ini diambil dari Linier Amplifier untuk BITX dari OM Yoke (YC3LVX). Asumsi pemilihan adalah karena rangkaian dirancang linier pada mode SSB mestinya bisa dipakai juga untuk mode AM.

Rangkaian kurang lebih sebagai berikut, beberapa bagian sudah saya modifikasi.

Dalam percobaan ini supply untuk Final digabung dengan Driver sebesar 12 Volt, Low Pass Filter belum dipasang.

HASIL  PERCOBAAN :

1.  Percobaan awal bias Mosfet distel sehingga arus drain 100 mA.  Tegangan output sampai 108 Volt, dummy load 53 ohm tidak panas.  Diduga ada masalah pada bias Mosfet sehingga tidak optimal.  Selanjutnya bias diturunkan sehingga arus drain sekitar 10 – 20 mA saja.

2.  Frekuensi output pada C kopling final ternyata besarnya 2 x frekuensi oscillator, berarti ada resonansi pada output Mosfet.  Koil L3 diganti dengan yang nilai induktansinya lebih besar, 25 lilit kawat email pada ferit tubing induktansi sekitar 1 mH.  Pengukuran ulang menunjukkan setelah L3 diganti maka frekuensi output sudah sesuai dengan frekuensi oscillator.

3.  Tuning dari frekuensi terendah ke frekuensi tertinggi menunjukkan frekuensi output bisa melonjak naik atau turun tidak linier, berbeda dengan frekuensi oscillator yang sudah linier.  Solusinya dengan merubah resistor pada emitor TR1 semula 22 ohm menjadi 47 ohm,  rangkaian RC pada emitor TR2 ditiadakan dan resistor pada emitor TR2 dirubah dari 22 ohm menjadi 39 ohm.  Setelah dilakukan perubahan maka tuning sudah linier sesuai frekuensi oscillator.

4.  Output pemancar walaupun tegangan RF-nya besar tetapi pada dummy load 53 ohm tidak panas, berarti impedansi output belum sesuai.  Setelah dihitung di atas kertas seharusnya impedansi rangkaian berkisar belasan ohm, dicoba dengan dummy load 15 Ohm bisa terasa panas.  Untuk menyesuaikan impedansi output menjadi sekitar 50 ohm dipasang L8 untuk menaikkan impedansi output.    Pada input L8 dipasang resistor 470 ohm agar beban Final Mosfet lebih stabil dan tidak terjadi osilasi.

Percobaan pada output L8 dipasang resistor 47 ohm sudah bisa panas, demikian juga sesudah LPF dipasang secara lengkap pada outputnya diberi  dummy load 47 ohm juga bisa  panas.

Pengukuran terakhir menunjukkan tegangan RF sebelum Low Pass Filter adalah 20 Volt dan tegangan RF output sesudah LPF sekitar 17 Volt, atau identik dengan power output sekitar 2,8 – 3 Watt.  Sudah cukup besar jika akan digunakan sebagai exciter bagi Linear Amplifier Push Pull dengan Mosfet.

Power output bisa ditingkatkan dengan menaikkan bias Mosfet tetapi harus dipertimbangkan efisiensinya dibandingkan besarnya daya DC yang digunakan.

 

 

z

VFO Stabilizer

Percobaan VFO Stabilizer baru dikerjakan, dengan membuat dua jenis stabilizer yang ditawarkan Hans Summers yaitu :

1.  One Chip Huff & Puff stabilizer dengan IC 74HC4060.

2.  Huff & Puff Stabilizer + VFO dengan IC 74HC4060 dan 74HC74.

Secara umum dapat saya sampaikan bahwa kedua stabilizer ini terutama ditujukan untuk VFO dengan output gelombang persegi, sementara jika input menggunakan VFO analog hasilnya kurang optimal.

Rangkaian yang sudah dibuat tidak bisa langsung dioperasikan dengan stabil, masih perlu coba-coba merubah nilai R dan C untuk mendapatkan hasil yang optimal.  Pada umumnya terjadi drift atau pergeseran frekuensi naik dan turun dengan cepat pada kisaran puluhan dan ratusan hertz, tidak bisa segera stabil pada satu frekuensi.  Kadang-kadang frekuensi bisa berubah secara acak sampai kisaran ratusan hertz sebelum kembali ke kisaran semula.

Pengalaman ini mungkin juga disebabkan VFO yang saya gunakan menggunakan komponen R dan C yang tidak dipilih khusus untuk menunjang kestabilan VFO.  Ada kemungkinan juga frequency counter saya saat mengukur belum stabil atau kemasukan frekuensi liar karena kabel input yang kurang memenuhi syarat.

Report detail masih disusun, rangkaian masih dicoba-coba dengan merubah nilai komponen dan diuji minimal 6 jam untuk melihat perubahan yang terjadi.

Sabar dulu ya Bro . . .

UPDATE :

Percobaan merubah nilai komponen menghasilkan :

1.  Perubahan frekuensi menaik atau menurun menuju titik “stabil”  bisa cepat atau agak lambat, tergantung nilai C seri 2 x 200 uF, saya rubah satu buah yang dekat ground jadi 100 uF atau 47 uF.

2.  Koreksi naik turun frekuensi di sekitar titik “stabil” dipengaruhi capacitor kopling antara LED dengan R menuju oscillator ( C = 330 pF ).  Saya ganti dengan 5 pF perubahan menjadi lebih halus ( puluhan Hz ) dan stabil lebih lama.

3.  Diamati berjam-jam tidak bisa “nyender” pada satu titik, tetap naik turun dengan kisaran +/- 1 kHz kira-kira ( pelan pelan naik, kemudian ganti pelan pelan turun, satu jam bisa 3 x PP kayak angkot ).

4.  Saya bandingkan dengan oscillator Vackar, 10 menit sudah nyender dan pergeseran pada puluhan Hertz naik turun dalam waktu lama.

Ada satu percobaan yang menunjukkan hasil stabil sekali, drift naik turun hanya plus minus 1 Hz (satu Hertz) sejak dihidupkan sampai berjam-jam lamanya, yaitu dengan menggunakan . . .

Kristal 4,4 MHz ( BIG SMILE  hehe hehe ).  Sayangnya ketika dicoba tuning hanya mampu bergeser sekitar 800 Hz saja.

 

Rangkaian oscillator saya pakai koil bekas IF warna biru digulung ulang 40 lilit, dengan varco 2 x 30 pF diseri.  Jika varco digunakan yang 2 x 300 pF hasilnya juga tidak jauh berbeda spread frekuensinya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 958 pengikut lainnya.