Monthly Archives: Agustus 2011

Antenna Loop untuk Penerima

Kesulitan penerimaan sinyal 80m Band melalui radio kempitan antara lain karena antena yang tidak memadai serta gangguan dari sinyal listrik/elektronik di dalam rumah. Solusi yang ditempuh antara lain memasang antena long wire, menggunakan rangkaian induksi berupa koil kecil yang disetalakan dan dihubungkan dengan antena luar, atau membuat rangkaian antena aktif/booster.
Saya mencoba membuat antena loop dengan bentuk persegi sehingga bisa disebut Box Loop. Dimensi loop adalah panjang 100 cm, lebar 100 cm, tebal sekitar 15 cm. Antenna terdiri dari kawat email diameter 1 mm panjang sekitar 12,5 meter dililitkan pada frame sebanyak 3 lilitan, spasi antar lilitan 1 inch atau 25,4 mm. Ujung-ujung kawat email disolderkan pada Varco Logam, cukup digunakan 1 gang saja. Frekuensi sekitar 4 MHz akan bisa disetalakan pada ujung putaran varco hampir membuka seluruhnya. Apabila diinginkan frekuensi berada pada pertengahan putaran Varco maka lilitan dapat dikurangi satu, yang semula 3 lilit menjadi 2 lilit saja ( panjang kawat email yang dibutuhkan cukup sekitar 9 m saja ).
Saya mendapatkan jumlah 3 lilit juga dari trial and error mengurangi jumlah lilitan dari hasil hitungan rumus Box Loop Calculator untuk frekuensi 4,1 MHz katanya dibutuhkan 5 lilit tetapi ketika digunakan yg diperkuat adalah pada gelombang MW (varco pakai 2 gang paralel). Sesudah dikurangi 1 lilitan demi 1 lilitan dan varco cukup pakai 1 gang maka jumlah 3 lilit sudah memberikan jangkauan frekuensi yang tepat.  Anda boleh saja menggunakan tap pada lilitan-lilitan tersebut tetapi jangkauan frekuensinya akan berbeda, diduga karena adanya pengaruh kapasitansi antar lilitan.
Pemutar Varco sebaiknya dibuatkan dari bahan non logam karena sentuhaan tangan/jari pada varco mempengaruhi tuning.
Meletakkan radio kempitan arahnya seperti pada gambar, dengan antenna teleskopik ditarik keluar.
Dengan antena ini penerimaan di Randublatung, Blora dengan Box mengarah ke Barat Timur pancaran dari Tegal, Gombong, Banjarnegara terdengar seperti lokal. Jember, Paiton dan Madura juga bisa termonitor. Tentu saja naik turun tergantung kualitas propagasi tetapi jauh lebih baik dibandingkan antena radio kempitan disambungkan langsung ke long wire (sinyal bisa ditarik keluar sehingga lebih menonjol dari noise atau QRM).
Tuning antenna Box Loop ini cukup tajam sehingga harus dilakukan pelan-pelan digeser varconya secara hati-hati.
Pada waktu membuat antena ini pakai pralon 3/4 inch, saya pikir kalau tidak berhasil bisa saya pakai untuk jemuran handuk    ^,^

 

 

 

 

 

Iklan

Power Supply + Stabilizer

Inilah rangkaian yang saya pergunakan untuk power supply Final MOSFET.

Semula saya hanya menggunakan Bridge Rectifier (kiprok) dan elco 40.000 uF yang seharusnya cukup memadai untuk penggunaan arus yang hanya sekitar 1,5 Ampere.  Ternyata setelah digunakan pada Final MOSFET tegangan awal 60 Volt berubah menjadi 35 Volt dengan arus 1,2 Ampere saja.

Setelah ditambah stabilizer maka tegangan menjadi 47 Volt, tidak terpaut jauh dengan sumber tegangan dari trafo 25 V – CT – 25 V diharapkan outputnya sekitar 50 Volt.  Lumayan, bisa tambah 12 Volt dengan kapasitas arus yang sama.

Rangkaian stabilizer sendiri aslinya bernama “Capacitance Multiplier”, yang berfungsi seolah-olah melipatgandakan nilai C pada basis sebanyak faktor penguatan transistor yang digunakan.  Jika elco yang digunakan 1.000 uF dan faktor penguatan transistor 1.000 maka seolah-olah kita menggunakan elco 1.000.000 uF pada power supply tersebut.  Saya menggunakan elco 10.000 uF / 50 V pada rangkaian di atas ternyata aman-aman saja walaupun tegangan awal sekitar 60 Volt.  Transistor cukup hangat sehingga harus dipasang pada heatsink.

POWER SUPPLY VARIABEL 10 AMPERE

Sekarang saya menggunakan Power Supply ini, cukup Low Noise, sederhana dan stabil.  Saya pakai untuk supply + 12 Volt  (untuk rangkaian Oscillator dan Driver) .    Elco sesudah Kiprok / Bridge Rectifier silahkan menyesuaikan saja.

Atur tegangan output sesuai yang diinginkan melalui potensio.  Perhatikan selisih tegangan Output dengan Input diusahakan tidak lebih dari 20 Volt  (datasheet bilang maksimal 40 Volt silahkan coba 😦  resiko tanggung sendiri ).  Sesuai keterangan tersebut diusahakan sebelum dicoba maka potensio dibuka dulu sampai 75 % supaya aman.

Silahkan coba yang ini Bro, lebih bagus dibandingkan pake LM 78xx + 2N3055.

 

Update :

Penggunaan untuk tegangan tinggi masih perlu eksperimen lebih lanjut.

 

My MOSFET Transmitter

 

Eng … ing … eng … Inilah dia kita sambut dan kita tampilkan : MOSFET Transmitter Jagawanaaaaaa . . . . . . .

 

MOSFET Power in action :

 

 

Membuat Ampere Meter

Menggunakan AVO-meter / multimeter untuk mengukur besarnya arus drain Final MOSFET dapat memberikan hasil yang akurat, namun untuk pemantauan setiap saat selama kita transmit sungguh tidak praktis sama sekali. Untuk itu kita membutuhkan Ampere meter yang dipasang permanen pada panel transmitter, tetapi sekarang kita tidak dapat menemukannya dengan mudah di toko-toko perlengkapan listrik atau elektronik.
Dari pada bingung mari kita membuat sendiri dengan cara merusak AVO-meter buatan China yang murah harganya dan disusun kembali menjadi Ampere meter dengan skala 0 – 5 Ampere, cukup memadai untuk pemancar kita.

Tahapan kerjanya sebagai berikut :

  1. Bongkar AVO-meter, ambil meterannya saja.
  2. Pasang resistor 0,1 ohm 5 Watt dua buah secara paralel, solder kaki A resistor pada  kaki A  meter.
  3. Kaki trimpot bagian tengah disolder ke kaki B trimpot  dan disolderkan ke kaki B resistor paralel.  Pemasangan trimpot gunanya untuk melakukan kalibrasi gerakan jarum meteran.
  4. Kaki A trimpot disolder ke kaki B meteran.  Jika kurang jelas  lihat ilustrasi foto di bawah.  Nilai trimpot bisa dicoba-coba antara 5 k – 10 k.
  5. Terminal untuk masuk dan keluar arus yang diukur adalah pada kaki A dan kaki B resistor paralel, mana input dan outputnya ditentukan setelah dicoba pengukuran yang menyebabkan jarum meter bergerak ke kanan.
  6. Pergunakan Ampere meter baru kita untuk mengukur arus, bandingkan dengan hasil pengukuran dengan AVO-meter, laksanakan kalibrasi dengan mengatur trimpot, dan buat skala yang sesuai.
  7. Selesai, siap dipasang pada transmitter untuk memantau arus drain MOSFET.

Varco PCB

Pembuatan rangkaian pemancar 80 m band seringkali menuntut kita untuk menyediakan kondensator variabel (varco) dengan medium udara yang umumnya terbuat dari logam/alumunium sehingga sering disebut varco logam. Varco logam diperoleh dengan membongkar radio lama yang masih menggunakan tabung, sedangkan pada radio jaman sekarang menggunakan varco plastik yang kurang cocok digunakan pada rangkaian pemancar berdaya tinggi.
Varco logam yang diambil dari penerima radio memiliki spasi antar pelat yang sangat rapat sehingga jika digunakan pada Final pemancar akan mudah menimbulkan loncatan bunga api yang disebabkan tegangan tinggi dan arus yang cukup besar. Pada umumnya rekan amatir menyiasati dengan merenggangkan spasi antar pelat varco dengan mencabut beberapa pelat yg terlalu rapat.
Varco logam saat ini semakin sulit didapat terlebih lagi yang spasinya lebar, sehingga kita perlu mencari alternatif yaitu membuat sendiri dari bahan yang mudah didapat yaitu dari papan bahan PCB (PCB polos). Varco yang dihasilkan memiliki spasi antar pelat sekitar 1 mm – 1,5 mm sehingga tidak menimbulkan loncatan bunga api.
Varco PCB saya gunakan untuk tuning Final MOSFET yang saya buat pada Blog ini dengan perkiraan power output 30 – 50 Watt, tidak menimbulkan bunga api dan tidak menjadi panas.

 

Setelah pelat-pelat tersusun sesuai skema maka seluruh pelat A dan B bagian bawahnya disolderkan pada pelat dasar/alas varco, dan seluruh pelat C salah satu sisinya disolder pada pelat kecil memanjang yang menyatukan seluruh pelat C ketika digerakkan berputar.

 

 

Driver

Rangkaian driver ini merupakan salah satu skema yang didapat dari buku Sarwo Edhi S. tetapi hanya digunakan 2 tahap awalnya saja. Namun demikian outputnya sudah memadai untuk pendorong Final MOSFET.
Transistornya menggunakan transistor yang umum yaitu 2N2222A dan 2SC1162. Percobaan saya ternyata 2SC1162 terasa agak panas sehingga diganti 2SC1971 dan diberi heatsink agak besar. Kebetulan saya punya stock transistor tersebut sisa pemancar 2 meteran.  Transistor 2SC1162 tetap dapat digunakan dengan diberi heatsink yang cukup.
Saya memilih rangkaian ini karena komponennya mudah didapat, terutama induktor / coil yang dibutuhkan. RFC saya gunakan 2,5 mH 100 mA tanpa dirubah, dan untuk tahap kedua cukup menggunakan lilitan bifilar dengan inti potongan ferit dari coil antenna radio biasa.

Output sinyal dari Vackar VFO + Buffer + Driver ini cukup halus sehingga perlu lebih teliti ketika melaksanakan Zero Beat pada penerima radio.  Jika pada frekuensi ada amatir yang sedang transmit maka proses zero beat lebih mudah dengan timbulnya suara mencuit.  Dalam tahap awal pencocokan rangkaian LC oscillator untuk menepatkan band frekuensi yang dikehendaki, dapat dipasang kawat/kabel sepanjang sekitar 1 m pada kapasitor output sehingga sinyal lebih jelas terdengar pada radio penerima.

Final MOSFET

Rangkaian cukup sederhana seperti kebanyakan rangkaian MOSFET lainnya.  Pada rangkaian ini terdapat pengaman berupa  2 buah dioda zener yang dipasang back to back, rangkaian RC feedback antara gate dan drain dan jangan lupa pada supply + dipasang sekring ( fuse ) sebesar 2  Ampere.  Pada gate dipasang ferrite bead untuk mengurangi terjadinya osilasi.

Power output yang optimal diperoleh dengan melakukan tuning pada varco sehingga dummy load menyala paling terang dan nyalanya stabil.  Apabila dummy load sudah sesuai dengan impedansi antenna maka hasil tuning dapat langsung digunakan untuk transmit menggunakan antenna yang sebenarnya.

Saya menggunakan dummy load berupa 2 buah lampu bohlam 40 Watt/220 Volt dihubungkan paralel (diukur dengan AVO meter mendekati 50 ohm).  Dummy load bisa menyala terang dengan arus drain sekitar 1,2 Ampere dan tegangan drain sekitar 35 Volt (power supply dalam keadaan tanpa beban menunjukkan sekitar 60 Volt).

Pada input sebelum C = 0,1 uF/63 Volt dapat diberi trafo RF dengan inti balun TV,  menggunakan kawat email 0,3 mm  bifilar 10 lilit.  Balun bisa satu buah atau dua buah ditumpuk dan di lem tidak banyak berpengaruh.

Loading coil dibuat pada sambungan pipa PVC, diameter luar 4 cm panjang 7 cm.  Jumlah 15 lilit kawat email 0,8 mm – 1 mm, antara lilitan diberi spasi  sekitar 3 mm.  Kecocokan induktor / loading coil dan kapasitor yg dipasang dalam melakukan tuning terhadap dummy load atau antenna terlihat dengan indikasi sinyal yang menaik kemudian menurun (atau sebaliknya) seiring diputarnya varco.  Jika belum tercapai silahkan merubah coil dan kapasitor yang digunakan.

Pengalaman eksperimen :

1.  Mengganti RFC dengan jumlah lilitan lebih banyak sampai 2 atau 3 lapis dengan maksud agar modulasi lebih menonjol, atau agar sinyal RF lebih besar ke output, TIDAK DIPERLUKAN.  Lilitan terlalu banyak pada RFC menyebabkan timbulnya loncatan tegangan tinggi dan MOSFET jebol.

2.  Trafo modulasi dengan jumlah lilitan sekunder banyak ( trafo 5 A lilitan 220 Volt) dan diameter kawat email kecil, menyebabkan arus drain kecil, sinyal naik turun seiring modulasi.  Jika tidak ada modulasi sinyal pun rendah.

3.  Trafo modulasi seperti pada skema di atas, sekunder 240 lilit dengan diameter kawat email 0,7 – 0,8 mm, menyebabkan arus drain antara 0,7 – 1,3 Ampere tergantung tegangan bias dan tuning loading coil.  Sinyal naik turun berkebalikan dengan intensitas modulasi.  Jika tidak ada modulasi sinyal maksimal sedangkan jika modulasi besar maka sinyal mendekati nol.

4.  MOSFET perlu diberi pendingin / heatsink, termasuk diberi kipas ventilasi.  Panas pada MOSFET timbul karena beroperasi secara linier yg dipengaruhi tegangan dan arus drain serta ketidakcocokan beban.  Apabila MOSFET dibiarkan kepanasan maka akan merubah tegangan bias selanjutnya arus drain akan meningkat cepat akhirnya MOSFET pun jebol.

Rangkaian di atas dengan heatsink bersirip yg besarnya sekitar 50 cm2 dan diberi kipas, tidak menghasilkan panas yg berarti (heatsink hanya terasa hangat masih bisa dipegang).

MOSFET dipasang pada heatsink menggunakan isolator mika, dan heatsink jangan dihubungkan dengan chassis, ground atau negatif power supply.  Percobaan-percobaan awal saya baik menggunakan MOSFET single ended maupun rangkaian push pull, heatsink dibaut pada chassis untuk memudahkan konstruksi tetapi power tidak bisa keluar.  Padahal pada prototipe asal-asalan tanpa chassis bisa memberikan power output yg cukup.  Setelah heatsink diisolasi dari chassis, ground dan negatif power supply, maka power output bisa normal.

5.  Tegangan bias untuk MOSFET biasanya antara + 2 s/d 4 Volt tergantung jenis FET-nya.  Namun demikian sering dijumpai pada gate terdapat tegangan negatif sehingga harus diberikan tegangan bias positif yang lebih besar dari ketentuan.  Oleh karena itu disediakan bias + 9 V, dengan catatan perlu ekstra hati-hati ketika melakukan penyetelan tegangan bias.  Disarankan untuk memasang Ampere meter untuk memantau arus drain setiap saat.

6.  Sekring ( fuse ) 2 Ampere HARUS dipasang pada positif power supply menuju drain MOSFET, diusahakan dari jenis yang cepat putus.  Sekring akan mengamankan MOSFET seandainya terjadi overheat atau osilasi dan menyebabkan arus drain meningkat dengan sangat cepat.

7.  Penambahan Low Pass Filter langsung pada output MOSFET, tanpa melalui rangkaian loading coil, apabila tidak cocok akan menyebabkan kesulitan pengaturan bias dan arus drain meningkat tajam (MOSFET panas dan tidak stabil).  Apabila akan mencoba rangkaian LPF disarankan disambung sesudah loading coil.

8.  Percobaan output menggunakan link coupling (tanpa loading coil + varco) dengan ferit tubing, 3 lilit bifilar kawat email 1 mm, power output hanya sekitar 25 % tetapi stabil pada seluruh frekuensi yang dijangkau putaran varco oscillator.  Perbedaan dengan menggunakan loading coil + varco yaitu power lebih maksimal tetapi setiap kali frekuensi tuning oscillator berubah maka varco output harus disesuaikan lagi agar output maksimal.

9.  Penambahan stabilizer pada power supply menghasilkan tegangan 46 Volt.  Terjadi pergeseran maksimum power sehingga besarnya C paralel pada rangkaian loading coil semula 100 pF + 100 pF dirubah menjadi 100 pF + 50 pF.  Setelah dituning ulang maka arus drain MOSFET berubah dari semula 1,2 – 1,3 Ampere pada tegangan 35 Volt  menjadi sekitar 1,5 Ampere pada tegangan 46 Volt.

10.  Percobaan Modulasi :  Pemancar dapat mengeluarkan transmisi sinyal termodulasi dengan kualitas cukup baik ketika dicoba dengan tegangan drain s/d 30 Volt, perkiraan output power sekitar 10 – 15 Watt.  Visualisasi pada dummy load adalah nyala bohlam stabil ketika ada modulasi menjadi sedikit lebih terang naik turun sesuai input modulasi.  Pada tegangan drain 47 Volt modulasi tidak layak dipancarkan sekalipun power sinyal cukup besar.   Terakhir modulasi dicoba gabungan antara Series Modulator tapi masih pakai Trafo Modulasi.  Lihat rangkaian Modulizer ya Boss . . . .

11.  Dicoba mengganti trafo modulasi dengan kawat email lebih kecil diameter 0,6 mm, lilitan primer 60 + 30 + 30 dan sekunder 240 + 120 + 120.  Pada sekunder poll 480 lilit menggunakan power besar masih belum bagus modulasinya.  Untuk sementara kembali menggunakan rangkaian Modulizer.

12.  Power supply diganti lebih stabil menggunakan LM317 paralel 2 buah kapasitas 3 Ampere : Modulasi tidak bisa ngangkat, induksi RF pada rangkaian dengan tegangan lebih dari 150 Volt.  Penyetelan tegangan bias bisa menghasilkan arus drain sampai 3 Ampere tetapi signal RF justru menurun tetapi modulasi cukup baik.  Mosfet tidak bisa bertahan lama, tidak stabil dan putus.

13.  Power supply menggunakan tegangan 12 Volt kapasitas 14 Ampere modifikasi Power Supply komputer :  signal optimal pada arus drain 0,7 Ampere, arus bisa dinaikkan sampai 1 Ampere tetapi signal menurun.  Pemberian modulasi pada final hanya menyebabkan perubahan arus sedikit saja (hampir tidak ada perubahan), berbeda dengan kondisi sebelumnya.

Layak dicoba : meningkatkan tegangan menjadi 24 Volt.

SEMENTARA PERCOBAAN MODULASI PADA FINAL DIHENTIKAN, masalah diduga dari power supply yang kurang stabil dan modulator yang belum sempurna.  Saya akan beralih menggunakan series modulator dengan modulasi pada driver.  Tunggu laporannya dalam waktu dekat.

Buffer VFO

Rangkaian Buffer ini juga cukup sederhana, dibuat menggunakan komponen aktif transistor yang mudah didapat.  Fungsi buffer adalah mengurangi beban bagi oscillator sehingga frekuensinya relatif stabil.  Tanpa rangkaian buffer ada kemungkinan frekuensi VFO pada saat zero beat menjadi bergeser ketika dilakukan transmit karena terjadi perbedaan beban dan perubahan besarnya arus yang dibutuhkan oleh rangkaian Final akan mempengaruhi frekuensi VFO.

Sedikit catatan tentang nilai kapasitor pada input Buffer atau berlaku juga untuk output oscillator, sebaiknya nilainya kecil saja sekedar bisa menyalurkan energi RF seminimal mungkin sehingga beban rangkaian berkurang dan frekuensi lebih stabil.

Skema asli dari buku Solid State Design oleh Hayward & de Maw.

UPDATE

Pemeriksaan bentuk gelombang pada rangkaian buffer di atas menunjukkan terjadi perubahan bentuk gelombang dari output Vackar VFO #1 yang berbentuk sinus menjadi gelombang yang ujung-ujungnya meruncing, sebagaimana gambar berikut :

Selanjutnya rangkaian buffer diganti dengan Buffer #2 maka bentuk gelombang output sama dengan bentuk gelombang output dari VFO sebagai beriut :

 

Untuk eksperimen selanjutnya saya menggunakan rangkaian Buffer #2,  rangkaian di atas tidak saya pergunakan lagi.

Skema rangkaian seperti di bawah ini.

 

BUFFER  VFO #2

Nilai komponen dengan tanda bintang ( * ) adalah yang saya pakai karena yang sesuai skema tidak ada pada persediaan di laci komponen saya.

Vackar Oscillator

Saya memilih Vackar Oscillator yang skemanya bisa dilihat di atas, antara lain karena rangkaiannya dilaporkan cukup stabil walaupun hanya menggunakan transistor biasa.  Setelah dirakit ternyata memang tidak banyak harmonik yang dihasilkan dan setelah dihidupkan dalam waktu lama relatif tidak ada pergeseran frekuensi.

Besarnya frekuensi aktif ditentukan oleh kombinasi antara Varco dan induktor, atau dapat ditambah dengan kapasitor yang dipasang paralel dengan varco.  Saya menggunakan nilai komponen yang tertera pada skema kemudian dilanjutkan dengan monitor frekuensi pada penerima radio selanjutnya dilakukan modifikasi pada jumlah lilitan induktor dan atau nilai kapasitor sehingga frekuensi yang diinginkan muncul pada penerima radio.

Untuk mendapatkan frekuensi sekitar 4 MHz saya menggunakan Varco Logam 1 gang, induktor dari kawat email 0,3 mm jumlah sekitar 50 lilit pada koker diameter 8  mm.   Frekuensi yang tepat berada pada posisi varco 45 % terbuka.

Pengukuran dengan frequency counter menunjukkan rentang frekuensi oscillator ini antara 3,6 MHz sampai 10,2 MHz.  Apabila induktor diganti menjadi 55 lilit maka frekuensi dimulai dari sekitar 2,8 MHz sampai 5,2 MHz.

RFC dibuat dari kawat email 0,3 mm sebanyak 10 – 15  lilitan pada koker  diameter 8 – 10 mm, pembuatan tidak perlu terlalu teliti.  Silahkan cek dan ricek dengan monitor langsung pada radio penerima.

Hasil Eksperimen :

1.  Kapasitor 680 pF dari basis TR1 ke ground berperan penting dalam rangkaian ini.  Jika tidak dipasang maka output seperti pancar ulang siaran radio, bukan getaran yang stabil.

2.  Agar frekuensi lebih stabil maka C = 56 pF bisa diganti 10  – 22 pF.  Apabila tidak terjadi osilasi silahkan menggunakan nilai C yang lebih besar sekitar 47 pF atau lebih.

3.  Power supply untuk oscillator diusahakan stabil dan bebas dengung.  Penggunaan power supply “biasa” dengan dengung yg cukup besar turut menyebabkan munculnya frekuensi-frekuensi samping yang kotor, setelah diganti yang ter-regulasi hanya muncul 2 – 3 frekuensi samping sementara frekuensi utama bisa dibedakan dengan jelas.  Semula saya menggunakan power supply dengan IC 7812 + 2N3055 kemudian saya ganti dengan LM723 + 2N3055 dengan hasil jauh lebih baik.  Rangkaian silahkan lihat di halaman lain.

https://jagawana80m.wordpress.com/2011/08/05/power-supply-stabilizer/

4.  Sebaiknya tidak menggunakan varco plastik karena menimbulkan lebih banyak getaran samping dan getaran lain khususnya ketika varco digeser-geser untuk tuning.  Apabila akan menggunakan varco plastik bisa dicoba yang kotaknya berwarna hitam.

5.  Induktor / koil L agar diletakkan berdiri tegak.  Beberapa kali percobaan dengan L diletakkan melintang (sejajar atau menempel dengan sasis) menyebabkan osilasi terhambat tidak ada getaran atau getarannya hilang timbul membuat penasaran.

Perhatikan pada gambar di atas induktor/koil dalam posisi rebah oscillator tidak berfungsi normal.  Sesudah letaknya dikoreksi menjadi berdiri tegak oscillator bisa berfungsi dengan baik.  Di bagian luar kotak adalah rangkaian Buffer, skema bisa dilihat di halaman lain.

https://jagawana80m.wordpress.com/2011/08/01/buffer/

UPDATE :

Secara umum kestabilan frekuensi sebuah VFO dipengaruhi pemilihan komponen, resistor sebaiknya menggunakan metal film (warna biru) dan kapasitor menggunakan NPO.  Jenis kapasitor lain akan berubah kapasitansinya seiring perubahan suhunya, ada yang menyebabkan frekuensi bergeser naik dan ada pula yang menyebabkan frekuensi bergeser turun.

Oscillator Vackar termasuk stabil tetapi tetap dipengaruhi pemilihan jenis komponen yang digunakan.  Pengamatan rangkaian VFO Vackar #1 menunjukkan pada frekuensi awal 4100,280 kHz setelah 100 menit frekuensi bergeser menjadi 4100,650 kHz, berarti terjadi pergeseran naik sebesar 370 Hz.  Pada rangkaian lain yang merupakan saudara kembarnya, dengan jenis kapasitor yang berbeda terjadi pergeseran naik dan turun berganti-ganti.

Saya mencoba menggabung rangkaian oscillator ini dengan Huff & Puff Stabilizer dengan konsekuensi pada varco ditambah rangkaian tuning elektronis, saya menggunakan sebuah led warna merah sebagai pengganti dioda varactor.  Sementara eksperimen berjalan ada kalanya rangkaian stabilizer dilepaskan untuk beberapa waktu dan saya mengamati ada perubahan perilaku pergeseran frekuensi VFO.

Mulai pada frekuensi awal 4100,200 kHz, selama 10 menit naik 80 Hz, kemudian selama 20 menit turun 15 Hz menjadi 4100,265 kHz.  Selanjutnya selama berjam-jam turun naik antara 265 dan 245 Hz (hanya selisih 20 Hz) dan sesekali frekuensi naik antara 4100,600 kHz dan 4100,900 kHz selama rata-rata 5 sampai 10 detik kemudian kembali ke kisaran frekuensi semula.  Bisa disimpulkan bahwa VFO sudah menjadi lebih stabil dengan adanya tambahan komponen tersebut.  Bagaimana cara kerjanya, saya belum tahu Bro . . .

Mau mencoba ?  Siapkan satu LED warna merah (saya pakai yg kacanya bening tapi menyala warna merah) dan satu kapasitor 10 nF.  Sambungkan Anoda (+) LED ke ground varco, sambungkan Katoda (-) LED ke kaki 1 kapasitor, sambungkan kaki 2 kapasitor ke varco.  Selesai.

Mudah-mudahan hasil percobaan Anda sama dengan hasil percobaan saya.

UPDATE :

Modifikasi tidak perlu pakai capacitor 10 nF, LED langsung disolder pada varco.  Dalam 10 menit frekuensi sudah stabil, pergeseran pada puluhan Hertz secara perlahan dan linier, tidak ada frekuensi naik turun secara acak.  Selamat mencoba.

UPDATE :

Modifikasi lebih lanjut untuk menampilkan display dan meningkatkan kestabilan oscillator antara lain dengan tambahan Frequency Locked Loop       (FLL)  dari om IK3OIL yang berbasis PIC 16F628A.  Untuk menggabungkan oscillator Vackar dengan FLL  lihat skema berikut :

Percobaan terakhir saya menggunakan oscillator Vackar dibuat pada PCB, menggunakan varco plastik dan koil pada koker 8 mm inti ferit ( kawat email 0,3 mm jumlah 30 lilit ).  Jangkauan frekuensi dari 2,8 MHz sampai 5,1 MHz bisa distel dengan memutar inti ferit ke luar menjadi 3,5 MHz sampai 6,0 MHz.

Long term drift sekitar 500 Hz naik turun, diduga disebabkan perubahan suhu dan/atau feedback yang cukup besar mengingat rangkaian belum diberi shielding, inti ferit lebih peka terhadap perubahan suhu, dan varco plastik yang terdiri dari lembaran logam tipis juga cukup peka perubahan suhu.
Setelah digabung dengan rangkaian FLL maka short term drift +/- 20 Hz naik turun diduga disebabkan tegangan kontrol dari FLL dalam menstabilkan frekuensi.
Rangkaian dibiarkan ON selama 10 (sepuluh)  jam dan frekuensi masih tetap pada kisaran awal tersebut.

Mengingat jangkauan frekuensi oscillator cukup lebar maka disarankan untuk menambah satu buah kapasitor variabel (varco) dengan kapasitas kecil diparalel dengan varco utama, yang difungsikan sebagai “Fine Tuning”.

UPDATE :

Kapasitor feedback (56 pF) turut menentukan jangkauan frekuensi oscillator ini.  Eksperimen untuk menyesuaikan jangkauan frekuensi dengan memberi kapasitor seri maupun paralel pada varco tuning menunjukkan bahwa pada suatu nilai tertentu tidak akan berubah banyak frekuensinya alias mentok.  Nah kalau sudah mentok begini silahkan kapasitor feedback dirubah lagi, untuk meninggikan frekuensi maksimum maka kapasitor feedback diperkecil dan sebaliknya.

Saya sudah mencoba membuat oscillator Vackar yang menggunakan FET tetapi belum memuaskan sehingga saya kembali ke rangkaian ini terbukti bisa stabil, bahkan jika dikunci menggunakan FLL maka pergeseran frekuensi hanya +/- 10 Hz saja meskipun dipanteng semalaman dan FLL masih lock dengan sempurna.
Untuk eksperimen rangkaian oscillator yg terbaru saya lebih banyak menggunakan varco plastik warna hitam.

UPDATE :

Kasus Drift Tidak Terkontrol

1.  Naik turunnya frekuensi terlalu lebar, ratusan atau ribuan hertz tetapi masih bisa berbalik arah.  Rangkaian perlu diperbaiki dengan cara diseimbangkan menggunakan komponen yg koefisien suhunya kebalikan dari arah drift.  Kapasitor kertas/padder/polystyrene/styroflex katanya mempunyai koefisien positif dan kapasitor keramik koefisien negatif.  Boleh dicoba kalau diparalel semakin banyak kapasitor keramik biasanya frekuensi cenderung bergeser ke frekuensi yang lebih rendah, sementara kalau menggunakan kapasitor kertas/padder biasanya frekuensi bergeser naik (coba diamati kalau kapasitor baru disolder di rangkaian).
Sederhananya begini, kalau ketika oscillator kita hidupkan frekuensinya cenderung turun terus maka pasang kapasitor kertas/padder pada kapasitor yang mempengaruhi frekuensi,  begitu juga sebaliknya.  kapasitor koreksi tersebut bisa menggantikan yangsudah ada atau diparalel saja dengan yang ada silahkan dicoba-coba.  SILAHKAN LANJUTKAN BACA NOMOR 3 kalau anda tipe bertangan gatal maunya nyolder terus hehehe . . .

2.  Rangkaian oscillator dihubungkan dengan FLL melalui resistor, dioda/varactor dan kapasitor seri seperti skema biru di atas.  Frekuensi bisa dikunci dan naik turun di sekitar frekuensi tertentu, tetapi penguncian frekuensi cukup lebar sehingga tetap terjadi naik atau turun tidak stabil pada satu frekuensi.  Kadang2 digit terakhir pada FLL berubah terus secara cepat.  Dalam hal ini tegangan kontrol dari FLL menyebabkan perubahan kapasitas terlalu besar sehingga nilai kapasitor yang diseri dengan dioda/varactor harus dikecilkan.  Pada skema di atas dicantumkan nilai 22 pF, saya pakai pada beberapa rangkaian sampai 10 pF bahkan 5 pF silahkan dicoba.

3.  Frekuensi oscillator naik terus atau turun terus dengan cepat, menembus puluhan bahkan ratusan kHz dan sampai MHz tidak ada tanda akan berhenti.  Jika VFO tersebut sebagai sarana eksperimen dan berulangkali disolder pada komponen yag terhubung langsung dengan transistor maka kemungkinan transistor rusak atau lemah karena overheat alias kepanasan atau mabok kebanyakan uap solder.

Pengalaman saya hal seperti ini membingungkan bahkan frekuensinya jauh melenceng dari hasil hitungan sampai saya memutuskan akan membuat rangkaian baru dan sudah bikin PCB-nya lagi.
Karena malas bongkar2 komponen yang berserakan dimana2 akhirnya setelah dipandang2 dan direnungkan saya cabut semua transistor di rangkaian oscillator (yang di buffer tidak dicabut) dan diganti transistor baru.
Selanjutnya dihubungkan dengan FLL/frek counter dan di-ON-kan ternyata
oscillator berfungsi normal kembali.
Haaaaahhhh . . . . legaaa rasanya hehehe . . .

UPDATE :
Saya merakit kembali VFO Vackar setelah mencoba merakit beberapa skema lain, tetap Vackar yang hasilnya memuaskan.  Perbedaan  dari rangkaian sebelumnya antara lain sebagai berikut :
1. Menggunakan varco plastik.
2. Menggunakan beberapa kapasitor polystyrene / padder / kapasitor kertas 680 pF dan 1000 pF.
3. Menggunakan kapasitor NP0 SMD paralel 2 buah dengan kapasitas 130 pF, paralel dengan varco.

Hasilnya frekuensi stabil dengan jangkauan dari 3,385 – 4,160 MHz, sudah cukup untuk QSO di 80 m Band.

Vackar Varco Plastik
.

Vackar + F Counter.
Yang ini dua buah kapasitor NP0 model SMD yang saya solder jadi satu pakai PCB bolong, total kapsitas 130 pF terbukti berpengaruh terhadap kestabilan oscilator.
Vackar Cap SMD.

Selamat mencoba.

z.