Monthly Archives: Januari 2012

QRP TX #2, Power = 3 Watt

Dasar rangkaian yang saya gunakan kali ini diambil dari Linier Amplifier untuk BITX dari OM Yoke (YC3LVX). Asumsi pemilihan adalah karena rangkaian dirancang linier pada mode SSB mestinya bisa dipakai juga untuk mode AM.

Rangkaian kurang lebih sebagai berikut, beberapa bagian sudah saya modifikasi.

Dalam percobaan ini supply untuk Final digabung dengan Driver sebesar 12 Volt, Low Pass Filter belum dipasang.

HASIL  PERCOBAAN :

1.  Percobaan awal bias Mosfet distel sehingga arus drain 100 mA.  Tegangan output sampai 108 Volt, dummy load 53 ohm tidak panas.  Diduga ada masalah pada bias Mosfet sehingga tidak optimal.  Selanjutnya bias diturunkan sehingga arus drain sekitar 10 – 20 mA saja.

2.  Frekuensi output pada C kopling final ternyata besarnya 2 x frekuensi oscillator, berarti ada resonansi pada output Mosfet.  Koil L3 diganti dengan yang nilai induktansinya lebih besar, 25 lilit kawat email pada ferit tubing induktansi sekitar 1 mH.  Pengukuran ulang menunjukkan setelah L3 diganti maka frekuensi output sudah sesuai dengan frekuensi oscillator.

3.  Tuning dari frekuensi terendah ke frekuensi tertinggi menunjukkan frekuensi output bisa melonjak naik atau turun tidak linier, berbeda dengan frekuensi oscillator yang sudah linier.  Solusinya dengan merubah resistor pada emitor TR1 semula 22 ohm menjadi 47 ohm,  rangkaian RC pada emitor TR2 ditiadakan dan resistor pada emitor TR2 dirubah dari 22 ohm menjadi 39 ohm.  Setelah dilakukan perubahan maka tuning sudah linier sesuai frekuensi oscillator.

4.  Output pemancar walaupun tegangan RF-nya besar tetapi pada dummy load 53 ohm tidak panas, berarti impedansi output belum sesuai.  Setelah dihitung di atas kertas seharusnya impedansi rangkaian berkisar belasan ohm, dicoba dengan dummy load 15 Ohm bisa terasa panas.  Untuk menyesuaikan impedansi output menjadi sekitar 50 ohm dipasang L8 untuk menaikkan impedansi output.    Pada input L8 dipasang resistor 470 ohm agar beban Final Mosfet lebih stabil dan tidak terjadi osilasi.

Percobaan pada output L8 dipasang resistor 47 ohm sudah bisa panas, demikian juga sesudah LPF dipasang secara lengkap pada outputnya diberi  dummy load 47 ohm juga bisa  panas.

Pengukuran terakhir menunjukkan tegangan RF sebelum Low Pass Filter adalah 20 Volt dan tegangan RF output sesudah LPF sekitar 17 Volt, atau identik dengan power output sekitar 2,8 – 3 Watt.  Sudah cukup besar jika akan digunakan sebagai exciter bagi Linear Amplifier Push Pull dengan Mosfet.

Power output bisa ditingkatkan dengan menaikkan bias Mosfet tetapi harus dipertimbangkan efisiensinya dibandingkan besarnya daya DC yang digunakan.

 

 

z

Iklan

VFO Stabilizer

Percobaan VFO Stabilizer baru dikerjakan, dengan membuat dua jenis stabilizer yang ditawarkan Hans Summers yaitu :

1.  One Chip Huff & Puff stabilizer dengan IC 74HC4060.

2.  Huff & Puff Stabilizer + VFO dengan IC 74HC4060 dan 74HC74.

Secara umum dapat saya sampaikan bahwa kedua stabilizer ini terutama ditujukan untuk VFO dengan output gelombang persegi, sementara jika input menggunakan VFO analog hasilnya kurang optimal.

Rangkaian yang sudah dibuat tidak bisa langsung dioperasikan dengan stabil, masih perlu coba-coba merubah nilai R dan C untuk mendapatkan hasil yang optimal.  Pada umumnya terjadi drift atau pergeseran frekuensi naik dan turun dengan cepat pada kisaran puluhan dan ratusan hertz, tidak bisa segera stabil pada satu frekuensi.  Kadang-kadang frekuensi bisa berubah secara acak sampai kisaran ratusan hertz sebelum kembali ke kisaran semula.

Pengalaman ini mungkin juga disebabkan VFO yang saya gunakan menggunakan komponen R dan C yang tidak dipilih khusus untuk menunjang kestabilan VFO.  Ada kemungkinan juga frequency counter saya saat mengukur belum stabil atau kemasukan frekuensi liar karena kabel input yang kurang memenuhi syarat.

Report detail masih disusun, rangkaian masih dicoba-coba dengan merubah nilai komponen dan diuji minimal 6 jam untuk melihat perubahan yang terjadi.

Sabar dulu ya Bro . . .

UPDATE :

Percobaan merubah nilai komponen menghasilkan :

1.  Perubahan frekuensi menaik atau menurun menuju titik “stabil”  bisa cepat atau agak lambat, tergantung nilai C seri 2 x 200 uF, saya rubah satu buah yang dekat ground jadi 100 uF atau 47 uF.

2.  Koreksi naik turun frekuensi di sekitar titik “stabil” dipengaruhi capacitor kopling antara LED dengan R menuju oscillator ( C = 330 pF ).  Saya ganti dengan 5 pF perubahan menjadi lebih halus ( puluhan Hz ) dan stabil lebih lama.

3.  Diamati berjam-jam tidak bisa “nyender” pada satu titik, tetap naik turun dengan kisaran +/- 1 kHz kira-kira ( pelan pelan naik, kemudian ganti pelan pelan turun, satu jam bisa 3 x PP kayak angkot ).

4.  Saya bandingkan dengan oscillator Vackar, 10 menit sudah nyender dan pergeseran pada puluhan Hertz naik turun dalam waktu lama.

Ada satu percobaan yang menunjukkan hasil stabil sekali, drift naik turun hanya plus minus 1 Hz (satu Hertz) sejak dihidupkan sampai berjam-jam lamanya, yaitu dengan menggunakan . . .

Kristal 4,4 MHz ( BIG SMILE  hehe hehe ).  Sayangnya ketika dicoba tuning hanya mampu bergeser sekitar 800 Hz saja.

 

Rangkaian oscillator saya pakai koil bekas IF warna biru digulung ulang 40 lilit, dengan varco 2 x 30 pF diseri.  Jika varco digunakan yang 2 x 300 pF hasilnya juga tidak jauh berbeda spread frekuensinya.