Monthly Archives: Agustus 2012

LINEAR AMPLIFIER 10 – 20 WATT

Beberapa rangkaian Linear Amplifier sudah pernah saya coba dan disajikan disini, yang terakhir ini yang SUPER MANSTABBB, cukup 3 tingkat tapi power bisa 10 – 20 Watt dengan input langsung dari Oscillator ( + Buffer juga dong hehehe . . . ).
Rangkaian merupakan comotan dari transceiver ARARINHA 4 oleh PY2OHH, skema sebagai berikut :

Sesudah dibuat PCB dan disolder berubah menjadi sbb :

KETERANGAN :

1.  Transistor 2N3904 yang pertama terasa hangat, sedangkan pada tingkat kedua yang berupa 2 transistor paralel terasa panas sekali sehingga perlu ditambahkan pendingin.  Anda dapat menempelkan transistor tersebut pada keping alumunium dengan menggunakan lem cyanoacrylate / super glue atau bisa seperti saya di gambar atas : transistornya dijepit dengan baut ke heatsink menggunakan potongan PCB kecil.

2.  Kapasitor 4n7 saya ganti 10 nF, kapasitor 82 pF saya pakai 100 pF, kemudian resistor 68 ohm saya tidak punya diganti 66 ohm pakai 2 x 33 ohm diseri.  Pengaturan bias untuk mosfet saya pakai trimpot kecil warna biru.

3.  Induktor 22 uH kebetulan saya punya berukuran 33 uH jadi dipakai saja.

4.  T1 menggunakan kawat tipis se-rambut digulung bifilar pada ferit bead.  Ferit ini saya dapat dari bongkaran trafo IF atau oscilator jadul, bentuknya dan ukurannya persis ferit pada koker coklat 8 mm hanya saja tengahnya berlubang.  Jika anda punya toroid dari bekas lampu hemat energi silahkan dipakai.  Cara membuatnya 2 helai Kawat email dipilin menjadi satu dengan panjang yang cukup, kemudian dililitkan melalui lubang di bagian tengah ferit secara merata sebanyak 8 lilit.  Buang lapisan email pada ujung2 kawat dan lakukan identifikasi keempat ujungnya menggunakan AVO meter, 2 kawat berseberangan yg tidak berhubungan dipilin menjadi satu untuk kaki bagian tengah.

5. T2 menggunakan toroid diameter 1 cm bekas lampu hemat energi.  Gulungan primer dibuat dari kawat email kira2 tebal 0,3 – 0,4 mm dililit merata pada toroid sebanyak 8 lilitan.  Gulungan sekunder dibuat dengan kawat email yang sedikit lebih tebal untuk membedakan, cara menggulung sama dengan lilitan primer termasuk dari mana mulai menggulung, hanya digeser sedikit saja sehingga gulungan sekunder ini bertumpuk di atas gulungan primer.  Gulungan dililit merata pada toroid sebanyak 4 lilit.  Cara memasang pada rangkaian persis seperti pada gambar skema, bagian atas pada toroid dapat bagian atas pada skema dan sebaliknya.

6. L1 sesuai skema dan pedoman perakitan yg asli dibuat pada toroid diameter 1 cm dengan kawat email yang cukup tebal untuk melewatkan arus sekitar 2 Ampere.  Saya sudah coba menggunakan kawat email tebal 0,7 – 0,8 mm pada toroid hitam diameter sekitar 2 cm dan toroid biru diameter 1,5 cm tetapi hasilnya induktor L1 ini menjadi sangat panas ketika rangkaian diaktifkan.  Akhirnya saya ganti menggunakan ferit tubing ukuran kecil/sedang (silahkan lihat pada foto di atas) dengan kawat email tebal sekitar 0,7  mm jumlah 8 lilit digulung merata melalui lubang tengah.  Dengan gulungan baru ini maka L1 tidak panas dan arus yang melalui Mosfet tidak berubah, bahkan terkesan Dummy Load lebih cepat panas.

7. L2 dililit pada ferit balun TV (hidung babi) kira2 setara dengan 3 atau 4 buah yang berukuran kecil dilem menjadi satu.  Saya menggunakan kawat email tebal 0,7 – 0,8 mm sebanyak 6 lilit dengan tap.  Cara membuat pertama digulung 3 lilit kemudian kawat dipuntir membuat tap selanjutnya digulung lagi 3 lilit.  Cara menghitung 1 lilit adalah ketika kawat email membuat 1 putaran U atau ujung kawat nongol di lubang sebelahnya.
Ketika L1 belum diganti ferit tubing maka L2 ini ikut menjadi panas ketika rangkaian diaktifkan, tetapi setelah dimodifikasi maka L2 menjadi sedikit hangat saja.

8. Penyetelan bias untuk Mosfet IRF540 dilakukan melalui potensio /trimpot 10 k.  Sebelum rangkaian diaktifkan maka trimpot ini diputar full ke kiri atau menuju ground.

a.  Hubungkan input RF ke ground, bisa disolder sementara.

b.  Pasang power supply 12 Volt pada rangkaian bertanda TX.

c.  Hubungkan titik Vcc ke bagian minus AVO meter, bagian plusnya ke power supply.  Atur pembacaan pada skala milli Ampere.

d.  Hidupkan power supply, cekleqqq . . . nyala ! ! !

e.  Perhatikan jarum AVO meter mestinya belum menunjukkan adanya arus.  Putar trimpot perlahan-lahan dan hati-hati, putar terus sampai jarum AVO meter bergerak menunjukkan arus 10 mA.

f.  Matikan rangkaian, rubah AVO meter pada setting pengukuran arus 10 A, sesuaikan juga colokan plus pada tempat yang sesuai untuk pengukuran 10 A.   Jika lalai maka anda bisa berkorban sebuah AVO meter mudah-mudahan amal anda diterima di sisi-Nya hehe . . .

g.  Buka solderan pada input RF yang tadi dihubungkan ke ground, sekarang dihubungkan ke oscillator atau exciter.

h.  Hubungkan output RF ke DUMMY LOAD 50 ohm  JANGAN LUPA ! ! !

i.  Hidupkan power supply dan oscillator atau exciter,  cekleqqq lagi deh.

j.  Perhatikan AVO meter, jarum akan menunjukkan pada kisaran angka arus 1 Ampere (mungkin 800 mA, bisa juga 1,2 A pokoknya dilihat saja).  Untuk memastikan coba diraba L1, L2 dan Dummy Load mestinya ada yang terasa hangat atau panas.  Demikian pula heatsink Mosfet akan terasa hangat.

L1 dan L2 mungkin sedikit hangat sedangkan Dummy Load mungkin agak panas kalau anda bisa merabanya.  Kalau sudah terasa hangat berarti tinggal mencoba kualitas pancarannya, tidak akan dibahas disini.

k.  Menurut keterangan PY2OHH dengan arus drain 1 Ampere maka output adalah 10 Watt sedangkan jika arus drain 2 Ampere outputnya 20 Watt.

Pada eksperimen di atas saya belum menghubungkan output rangkaian dengan Low Pass Filter ( L3 dan 2 buah kapasitor = 470 pF untuk band 40 m.  Untuk band 80 m PY2OHH mencantumkan nilai L = 2,2 uH dan kapasitor 2 buah masing-masing 1000 pF).  Rangkaian dihubungkan langsung ke Dummy Load 50 ohm 2 Watt dan dalam waktu singkat berasap dan menghitam hehehe . . .

Besarnya arus drain bisa distel dari tegangan bias mosfet, saya bisa stel sampai 2 Ampere tidak diteruskan, takut mosfetnya meletus karena heatsink terasa cukup panas.
Sedikit catatan : PY2OHH menyarankan untuk kapasitor 100 nF dan 2 x 470 pF pada bagian output menggunakan yang tegangannya sekitar 100 Volt atau lebih.

Selamat mencoba.

UPDATE :

Dicoba menggunakan  input sinyal AM dari MC1496, linier pada arus drain 150 s/d 500 mA sehingga power output sekitar 2 – 5 Watt.  Lumayan juga sudah membuat dummy load 50 ohm 4 Watt berubah warna dari semula abu-abu tua menjadi coklat pucat disertai semerbak wangi khas resistor panas hehe . . .

UPDATE :
Saya membuat rangkaian ini kedua kalinya untuk BITX pada 80m band, dengan L2 menggunakan inti ferit binokular/hidung babi bongkaran dari balun TV yang dijual terpisah dalam casing plastik warna hitam,  tiga buah dilem jadi satu.  Ternyata L2 menjadi panas sekali.  Setelah diukur induktansinya rendah sekali dibandingkan menggunakan toroid binokular beneran.  Akhirnya L2 saya gulung pada ferit tubing, arus yang diambil tanpa modulasi sekitar 60 mA dan sampai 1,7 A ketik diberi modulasi , output RF masih sebanding tidak ada penurunan dan L2 hanya hangat saja.
Linier atau tidak outputnya masih saya test lagi, masih harus bikin DC receiver untuk monitor pancarannya dari Bitx.

z

Iklan