LINEAR AMPLIFIER 10 – 20 WATT

Beberapa rangkaian Linear Amplifier sudah pernah saya coba dan disajikan disini, yang terakhir ini yang SUPER MANSTABBB, cukup 3 tingkat tapi power bisa 10 – 20 Watt dengan input langsung dari Oscillator ( + Buffer juga dong hehehe . . . ).
Rangkaian merupakan comotan dari transceiver ARARINHA 4 oleh PY2OHH, skema sebagai berikut :

Sesudah dibuat PCB dan disolder berubah menjadi sbb :

KETERANGAN :

1.  Transistor 2N3904 yang pertama terasa hangat, sedangkan pada tingkat kedua yang berupa 2 transistor paralel terasa panas sekali sehingga perlu ditambahkan pendingin.  Anda dapat menempelkan transistor tersebut pada keping alumunium dengan menggunakan lem cyanoacrylate / super glue atau bisa seperti saya di gambar atas : transistornya dijepit dengan baut ke heatsink menggunakan potongan PCB kecil.

2.  Kapasitor 4n7 saya ganti 10 nF, kapasitor 82 pF saya pakai 100 pF, kemudian resistor 68 ohm saya tidak punya diganti 66 ohm pakai 2 x 33 ohm diseri.  Pengaturan bias untuk mosfet saya pakai trimpot kecil warna biru.

3.  Induktor 22 uH kebetulan saya punya berukuran 33 uH jadi dipakai saja.

4.  T1 menggunakan kawat tipis se-rambut digulung bifilar pada ferit bead.  Ferit ini saya dapat dari bongkaran trafo IF atau oscilator jadul, bentuknya dan ukurannya persis ferit pada koker coklat 8 mm hanya saja tengahnya berlubang.  Jika anda punya toroid dari bekas lampu hemat energi silahkan dipakai.  Cara membuatnya 2 helai Kawat email dipilin menjadi satu dengan panjang yang cukup, kemudian dililitkan melalui lubang di bagian tengah ferit secara merata sebanyak 8 lilit.  Buang lapisan email pada ujung2 kawat dan lakukan identifikasi keempat ujungnya menggunakan AVO meter, 2 kawat berseberangan yg tidak berhubungan dipilin menjadi satu untuk kaki bagian tengah.

5. T2 menggunakan toroid diameter 1 cm bekas lampu hemat energi.  Gulungan primer dibuat dari kawat email kira2 tebal 0,3 – 0,4 mm dililit merata pada toroid sebanyak 8 lilitan.  Gulungan sekunder dibuat dengan kawat email yang sedikit lebih tebal untuk membedakan, cara menggulung sama dengan lilitan primer termasuk dari mana mulai menggulung, hanya digeser sedikit saja sehingga gulungan sekunder ini bertumpuk di atas gulungan primer.  Gulungan dililit merata pada toroid sebanyak 4 lilit.  Cara memasang pada rangkaian persis seperti pada gambar skema, bagian atas pada toroid dapat bagian atas pada skema dan sebaliknya.

6. L1 sesuai skema dan pedoman perakitan yg asli dibuat pada toroid diameter 1 cm dengan kawat email yang cukup tebal untuk melewatkan arus sekitar 2 Ampere.  Saya sudah coba menggunakan kawat email tebal 0,7 – 0,8 mm pada toroid hitam diameter sekitar 2 cm dan toroid biru diameter 1,5 cm tetapi hasilnya induktor L1 ini menjadi sangat panas ketika rangkaian diaktifkan.  Akhirnya saya ganti menggunakan ferit tubing ukuran kecil/sedang (silahkan lihat pada foto di atas) dengan kawat email tebal sekitar 0,7  mm jumlah 8 lilit digulung merata melalui lubang tengah.  Dengan gulungan baru ini maka L1 tidak panas dan arus yang melalui Mosfet tidak berubah, bahkan terkesan Dummy Load lebih cepat panas.

7. L2 dililit pada ferit balun TV (hidung babi) kira2 setara dengan 3 atau 4 buah yang berukuran kecil dilem menjadi satu.  Saya menggunakan kawat email tebal 0,7 – 0,8 mm sebanyak 6 lilit dengan tap.  Cara membuat pertama digulung 3 lilit kemudian kawat dipuntir membuat tap selanjutnya digulung lagi 3 lilit.  Cara menghitung 1 lilit adalah ketika kawat email membuat 1 putaran U atau ujung kawat nongol di lubang sebelahnya.
Ketika L1 belum diganti ferit tubing maka L2 ini ikut menjadi panas ketika rangkaian diaktifkan, tetapi setelah dimodifikasi maka L2 menjadi sedikit hangat saja.

8. Penyetelan bias untuk Mosfet IRF540 dilakukan melalui potensio /trimpot 10 k.  Sebelum rangkaian diaktifkan maka trimpot ini diputar full ke kiri atau menuju ground.

a.  Hubungkan input RF ke ground, bisa disolder sementara.

b.  Pasang power supply 12 Volt pada rangkaian bertanda TX.

c.  Hubungkan titik Vcc ke bagian minus AVO meter, bagian plusnya ke power supply.  Atur pembacaan pada skala milli Ampere.

d.  Hidupkan power supply, cekleqqq . . . nyala ! ! !

e.  Perhatikan jarum AVO meter mestinya belum menunjukkan adanya arus.  Putar trimpot perlahan-lahan dan hati-hati, putar terus sampai jarum AVO meter bergerak menunjukkan arus 10 mA.

f.  Matikan rangkaian, rubah AVO meter pada setting pengukuran arus 10 A, sesuaikan juga colokan plus pada tempat yang sesuai untuk pengukuran 10 A.   Jika lalai maka anda bisa berkorban sebuah AVO meter mudah-mudahan amal anda diterima di sisi-Nya hehe . . .

g.  Buka solderan pada input RF yang tadi dihubungkan ke ground, sekarang dihubungkan ke oscillator atau exciter.

h.  Hubungkan output RF ke DUMMY LOAD 50 ohm  JANGAN LUPA ! ! !

i.  Hidupkan power supply dan oscillator atau exciter,  cekleqqq lagi deh.

j.  Perhatikan AVO meter, jarum akan menunjukkan pada kisaran angka arus 1 Ampere (mungkin 800 mA, bisa juga 1,2 A pokoknya dilihat saja).  Untuk memastikan coba diraba L1, L2 dan Dummy Load mestinya ada yang terasa hangat atau panas.  Demikian pula heatsink Mosfet akan terasa hangat.

L1 dan L2 mungkin sedikit hangat sedangkan Dummy Load mungkin agak panas kalau anda bisa merabanya.  Kalau sudah terasa hangat berarti tinggal mencoba kualitas pancarannya, tidak akan dibahas disini.

k.  Menurut keterangan PY2OHH dengan arus drain 1 Ampere maka output adalah 10 Watt sedangkan jika arus drain 2 Ampere outputnya 20 Watt.

Pada eksperimen di atas saya belum menghubungkan output rangkaian dengan Low Pass Filter ( L3 dan 2 buah kapasitor = 470 pF untuk band 40 m.  Untuk band 80 m PY2OHH mencantumkan nilai L = 2,2 uH dan kapasitor 2 buah masing-masing 1000 pF).  Rangkaian dihubungkan langsung ke Dummy Load 50 ohm 2 Watt dan dalam waktu singkat berasap dan menghitam hehehe . . .

Besarnya arus drain bisa distel dari tegangan bias mosfet, saya bisa stel sampai 2 Ampere tidak diteruskan, takut mosfetnya meletus karena heatsink terasa cukup panas.
Sedikit catatan : PY2OHH menyarankan untuk kapasitor 100 nF dan 2 x 470 pF pada bagian output menggunakan yang tegangannya sekitar 100 Volt atau lebih.

Selamat mencoba.

UPDATE :

Dicoba menggunakan  input sinyal AM dari MC1496, linier pada arus drain 150 s/d 500 mA sehingga power output sekitar 2 – 5 Watt.  Lumayan juga sudah membuat dummy load 50 ohm 4 Watt berubah warna dari semula abu-abu tua menjadi coklat pucat disertai semerbak wangi khas resistor panas hehe . . .

UPDATE :
Saya membuat rangkaian ini kedua kalinya untuk BITX pada 80m band, dengan L2 menggunakan inti ferit binokular/hidung babi bongkaran dari balun TV yang dijual terpisah dalam casing plastik warna hitam,  tiga buah dilem jadi satu.  Ternyata L2 menjadi panas sekali.  Setelah diukur induktansinya rendah sekali dibandingkan menggunakan toroid binokular beneran.  Akhirnya L2 saya gulung pada ferit tubing, arus yang diambil tanpa modulasi sekitar 60 mA dan sampai 1,7 A ketik diberi modulasi , output RF masih sebanding tidak ada penurunan dan L2 hanya hangat saja.
Linier atau tidak outputnya masih saya test lagi, masih harus bikin DC receiver untuk monitor pancarannya dari Bitx.

z

About jagawana80m

Mencoba menikmati dunia amatir melalui eksperimen.

Posted on 03/08/2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 41 Komentar.

  1. wawan dan duna

    wahh sayang gk di bahas cara melilit induktornya,,

  2. melilitnya yang belum bisa, hehe

    • Coba cari artikel aslinya PY2OHH tentang Ararinha, disitu dijelaskan detail banget malah ada fotonya juga. Dicoba saja boss, kalau saya terangkan takutnya salah kan saya juga cuma eksperimen belum tentu betul hehehe . . .

  3. Mohon izin Mas Bob, aku posting di sini yaaa :
    http://amatirindo.com/index.php?option=com_content&view=article&id=359:linear-amplifier-10-20-watt&catid=51:teknik&Itemid=41
    isi ngga’ ada yang diubah dan disertakan juga sumbernya koq… boleh yaaa…:)
    73…de yd1dkq

    • Boleh silahkan om Rudi bahasanya juga boleh diedit supaya sesuai dengan missi anda mungkin perlu yang agak ilmiah tidak ngalor ngidul hehe . . .

      • justruuu… sangat menarik sekali tulisan Mas Bob, tentu teman2 lainnya akan sangat mudah menyerap maksud dari isi artikelnya… pokoke’… BUAGUUUUUSSSS… & “SUPER MANSTABBB” thaaaahhh…😀
        salam 73…de yd1dkq@bandung 6°49.04′ S 107°37.65′ E (OI33TE53HU)

      • OK om semoga bisa bermanfaat buat rekan2 lain.

  4. Om ini untuk penguat AM atau FM brapa watt max keluaranya dan brapa lama kekuatan transistor waktu stanbay

    • Penguat linier ini bisa untuk AM dan DSB-SC plus SSB pak Agus. Dengan pengaturan bias yang tepat dan pendingin yang memadai bisa dipakai pidato di gelombang AM, tapi kalau kepanasan ya seperti biasa Mosfetnya meletus, putus atau korslet makanya perlu kehati-hatian dan pengamanan.

  5. Coba om eksperimenkan dengan dsb sc sekema yg saya upload di fb bodolan 80 mtr keliatanya lebih simpel dibanding BITX

    • Yang skema dari om Andy Sontax ya pak, coba kita lihat dulu. Saya juga sedang coba transceiver UIRAPURU dari PY2OHH sama2 DSB-SC tapi pakai IC digital pak. Receiver sudah dicoba OK tinggal transmitternya.

  6. wawan dan duna

    OM Bob Memang mantafff,, selalu memberi inspirasi

  7. Om Bob,seperti biasa….saya mo nanya. Maklum nubie….hehehe…! Penguat linear ini, jika dipakai di 27MHz, apa saja yang perlu di sesuaikan? Apakah hanya LPF-nya saja? Ato ada yang lain? Suwun….!

    • Kira2 begitu om Kristiyandono, bisa dicoba tanpa LPF dulu baru kalo RF sudah keluar dihitung pakai software untuk menghitung Pi section LPF, bisa juga lihat contoh rangkaian yang multiband. Yang agak kritis mungkin tipe Mosfet-nya yang cocok di 27 MHz tidak semua bisa, berbeda dengan di band HF frek 5 MHz ke bawah. Lihat2 di modif CB tu om, selamat mencoba.

      • Siiip…..terima kasih jawabannya Om Bob. Jadi kebayang sekarang mo buat apa….hehehe….pengennya buat tx 2 band 80m dan 11m (jauh banget ya? hehehe….) dengan saklar di bagian OSC TTL-nya dan LPF-nya. untuk MOSFET nya kayanya pake yang bisa sampe 30MHz kali,ya?

      • Sudah ada yang membahas mosfetnya tuh om, katanya IRF 510, 520, 530 bisa dipake. Hanya saja tolong hati2 selalu mengukur frekuensi outputnya karena berdasarkan pengalaman walaupun namanya penguat linier kadang2 frekuensi outputnya “belok” tidak sama dengan frekuensi osilator. Saya beberapa kali mengalami terutama kalau ada koil di kolektor atau drain yang lilitannya sedikit dan yang pada emitor drivernya ada rangkaian RC seri disamping R emitornya.
        Lanjuut . . .

  8. Tulisan mengenai uprek BITX-nya ditunggu Om Bob🙂

    • OK mas rudik osilator yg stabil sudah jadi, BITX sudah bisa monitor. Tinggal bikin linier amplifier ini satu biji lagi, bikin S-meter plus AGC-nya.
      Kalau sudah jadi barulah kita bikin artikelnya.
      Sabar mas, majunya sedikit2 saja biar panjang umur hehe . . .

  9. makasihmas sangat bermanfaat heee salam

  10. maaf om ijin tanya pada trafo toroid ini untuk teta 0,12. 1000 T dan teta 0,35 100T ini gambar maksudnya apa??

    • Itu rangkaian pengukur kelembaban biji2an ya. Gambar tersebut adalah semacam trafo dengan dua lilitan, pertama menggunakan kawat email diameter 0,12 mm jumlahnya 1000 lilitan dan yang kedua menggunakan kawat email diameter 0,35 mm jumlah 100 lilitan. Kalau dari gambar skema kelihatannya bisa menggunakan inti besi atau ferit biasa bukan khusus RF.

  11. sekedar pendapataja om
    coba membahas tentang pemancar am kelas E
    barangkali temen2 ada yang tertarik
    makasih

  12. pak jagawana saya punya icom V80 dgn power output 5,5 watt bagaimana caranya agar outputnya bisa lebih besar, apakah bisa di boster mohon penjelasannya. Terimakasih

    • Bisa mas Siswanto, cara paling mudah menaikkan power adalah dengan menambah booster khusus 2m. Ada macam2 jenis dengan level power yg berbeda, harganya juga bermacam2, tapi pastinya anda harus menyediakan power supply minimal 10 Ampere atau pakai aki mobil.
      Silahkan beli saja bisa langsung dipakai tanpa banyak pengaturan. Kecuali anda punya frekuensi favorit alias pojokan bisa dibongkar dan dituning supaya power maksimum pada frekuensi tersebut.
      Salam.

  13. Om Bob…….saya sdh coba bikin penguat linier,tapi kenapa setiap naik ketingkat berikutnya frequensinya selalu berubah…..misal diosc 7.000mhz,masuk ketingkat berikutnya jadi 14.000mhz,mohon penjelasanya……….

    • Nah ini masalahnya kalau punya alat ukur malah penasaran hehehe . . .
      Pengalaman saya hal ini terjadi karena koil pada kolektor atau drain terlalu kecil induktansinya antara lain karena material ferit atau toroid yang tidak sesuai dengan yang diminta pada skema. Koil tersebut beresonansi pada frekuensi kelipatan osilator. Solusi saya adalah menambah lilitan atau kalau ada kapasitor paralel dengan koil ya memperbesar kapasitor sampai frekuensi outputnya sama dengan osilator. Seandainya koilnya tunggal, tidak ada primer dan sekundernya, perbanyak saja lilitannya sehingga dia berfungsi murni sebagai RF Choke. Pasti outputnya sama dengan frekuensi osilator.
      Silahkan dicoba-coba, kadang2 hanya menambah 2 atau 3 lilit sudah berbeda hasilnya.
      Faktor lain, adanya C bypass pada R emitor juga berpengaruh. Kalau rangkaian anda ada C pada R emitornya silahkan C tersebut dilepas dulu.
      Selamat mencoba.

  14. Eliza Sukiman

    salut…mantap…bermanfaat buat temen2 yg mau ber experiment.

    • Terima kasih om Eliza Sukiman. Saya mencoba membuat rangkaian tahap demi tahap berikut apa yang saya coba eksperimen sesuai logika saya tentunya. Dengan model narasi ini harapan saya rekan yang ingin mencoba bisa termotifasi, bukan sekedar menyolder sesuai skema saja.
      Thanks for visiting ya OM.

  15. halo om bob, boleh minta skema frekwensi meter dan lc meter ? kalo bisa ada pembahasannya sekalian. terimakasih.

    • Saya sudah bikin rangkaian Bitx dan Ararinha, jadi bisa membandingkan dengan antena yang sama yang mana yang lebih sensitif dsb. Bisa juga dibandingkan dengan penerima radio SW biasa (radio kempitan), pada frekuensi yg sama bagaimana.
      Kurang penerimaan, mungkin juga karena antennanya belum pas panjang atau tuningnya mas Gareng, silahkan dicoba2 lagi.

  16. om linear mantap gak? Aq pengen nyoba

    • Semua yang di blog ini cuma laporan eksperimen mas. Hasil akhirnya tergantung kelengkapan yang ada di rangkaian anda plus penyetelannya. Apalagi menyangkut inti ferit dan toroid yang beraneka macam apabila tidak standar bisa jauh berbeda hasilnya.

  17. Om, numpang tanya, bisa buat artikel untuk membuat trafo donat atau memodifikasi trafo donat milik stavolt. Gulungan primary 220v, untuk gulungan secondary nya CT, 12v – 12v , 24v – 24v, 36v – 36v , 48v – 48v, 72v – 72..
    mathur nuhun om….

    • Wah maaf om, saya juga punya trafo donat bekasnya 12 V CT 10 A, baru saya bongkar lilitan sekundernya, masih malas mau eksperimen soalnya gulungnya susah kalo kawatnya panjang. Baru terbayang setelah dibongkar hehe . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: