Membuat Antenna EFHW

Eksperimen di bidang radio telekomunikasi mau tidak mau menyinggung tentang antenna, karena perannya yang sangat penting dalam menangkap dan menyalurkan gelombang elektromagnetik pada frekuensi atau band tertentu.  Saya pernah mencoba membuat antenna untuk lahan sempit antara lain antenna Cobra, namun belum bisa diuji efektivitasnya sebagai antenna pemancar.  Saya juga sudah membuat antenna inverted V untuk band 40 meter namun juga kurang efektif mengingat kondisi lokasi dimana antenna didirikan yang kurang menguntungkan.  Akhirnya saya mencoba bereksperimen dengan antenna EFHW alias End Fed Half  Wave.

Antenna EFHW merupakan antenna yang terbuat dari kawat, dengan panjang 1/2 lambda, yang diumpan pada bagian ujungnya.  Karakteristik antenna ini adalah impedansinya tinggi pada orde kilo ohm dan tidak memerlukan grounding yang rumit, sedangkan bentuk gelombang radiasi yang dipancarkan serta pola distribusinya sepanjang kawat antenna sama dengan dipole biasa.  Dengan karakteristik tersebut maka antenna EFHW sangat cocok sebagai antenna portable yang praktis atau sebagai stealth antenna jika kondisi lingkungan tidak memungkinkan didirikannya antenna yang tampak menyolok atau mengganggu pemandangan. Antenna EFHW bisa dipasang vertikal, horisontal, miring ke satu sisi, bahkan bisa membentuk huruf V terbalik (inverted) no problem.

Kendala yang dihadapi dalam penggunaan antenna EFHW adalah impedansinya yang tidak match dengan impedansi sebagian besar pesawat pemancar yaitu 50 ohm, sehingga untuk pemanfaatan yang efektif diperlukan penyesuaian impedansi.  Rangkaian cukup sederhana dan bahannya mudah didapat bisa dilihat pada skema sebagai berikut :

EFHW Skema

Hasil setelah disolder adalah sebagai berikut :

DSC00124-kecilDSC00125
Dipasang pada antenna betulan lihat nih :

DSC00131-kecil
Bisa terlihat antenna eksperimen saya tumpang tindih antara inverted V terlihat tiang tengahnya itu pipa pralon, dan antenna Cobra terlihat koil balunnya.

HASIL EKSPERIMEN :
1.  Antenna EFHW-nya sendiri tidak ada sesuatu yang aneh dan harus diterangkan secara khusus, hanya berupa kawat tembaga diameter 1 mm sepanjang 1/2 lambda, saya stel sesuai frekuensi 6,995 MHz menurut rumus yang semua orang sudah tahu tidak perlu saya jelaskan lagi.  Seperti terlihat pada foto, separuh antenna saya pasang miring mengikuti genting sampai ke pipa listrik, kemudian separuh lagi arah horisontal.  Bentangan antenna adalah Utara – Selatan dengan pertimbangan utama pada arah Barat – Timur ada tetangga sebelah gedung tingkat tiga, di samping juga dengan arah bentangan antenna tersebut akan diperoleh arah pancaran Barat – Timur sehingga bisa menjangkau semua bagian Pulau Jawa.  Titik tertinggi antenna yang saya buat yaitu di atas pipa listrik sekitar 9 m dari permukaan tanah.
2.  Pembuatan tuner tidak sulit, hanya pada awalnya saya membuat sesuai skema yang menggunakan toroid untuk kopling ke SWR-nya tetapi ternyata tidak bisa berfungsi optimal.  Akhirnya saya pilih rangkaian seperti pada gambar di atas yang menggunakan kopling RC.
Saya menggunakan Varco besi spasi rapat untuk tuning tetapi saya hubungkan secara seri sehingga kapasitasnya berkurang tetapi kemampuan tegangannya meningkat.  Stator saya isolasi dari ground dan hubungan ke koil  adalah pada masing-masing rotor yang ada (tidak ada hubungan ke stator).

Koil dibuat dari kawat email diameter kira-kira 0,8 mm dililit pada batang ferit ex radio 2 band.  Lilitan primer jumlah 9 lilit menyesuaikan impedansi input dari pemancar 50 ohm, dan lilitan sekunder 30 lilit.  Koil berupa autotrafo sehingga dibagi 2 lilitan 9 + 21 lilit. Lilitan primer ( 9 lilit ) mempunyai induktansi sekitar 4,55 uH. Silahkan menyesuaikan jika anda menggunakan jenis inti yang lain untuk trafo RF.
Apabila dilihat pada foto, silahkan anda zoom, bisa dilihat bahwa jumlah lilitan total adalah 90 lilit untuk menyediakan rasio lilitan 1 : 10.  Namun demikian setelah dilakukan pengetesan dengan dummy load resistor 4k7 ohm sesuai karakteristik impedansi antenna EFHW sekitar 5000 ohm ternyata cukup digunakan tap pertama dengan rasio lilitan 1 : 3 saja sehingga tap lainnya tidak perlu dipakai.  Jika anda akan membuat silahkan pakai jumlah lilitan sesuai skema saja.  Dalam hal ini maka anda tidak perlu memasang switch rotary dan boks serta perkabelan bisa lebih ringkas lagi.
Saya menghubungkan kawat counterpoise pada titik ground tuner sepanjang 10 meter saya pasang pada lisplang tegak lurus bentangan antena, sejajar tanah dengan ketinggian sekitar 2 m dari tanah. Counterpoise ini bisa anda pasang atau tidak, bisa juga berupa kawat pendek saja sekitar 2 meter, silahkan dicoba-coba sendiri dan tidak terlalu kritis.

3.  Rangkaian tuner ini sudah dilengkapi indikasi SWR berupa lampu LED.  Cara tuning adalah pemancar diatur pada posisi TX, biarkan carrier terpancar dengan power sekitar 1 Watt.  Untuk pemancar SSB perlu diatur pada balance modulatornya agar terdapat carrier bocor.  Posisikan switch pada SWR, lihat indikasi pada LED.  Jika belum match akan tampak bersinar, silahkan putar varco sampai LED padam berarti antenna sudah match pada 50 ohm.  Kembalikan saklar pada posisi OPR dan antenna sudah siap digunakan untuk berkomunikasi pada frekuensi tersebut.

CATATAN :  Antenna EFHW dan tuner di atas sudah saya gunakan berkomunikasi dengan mode SSB pada band 40 m, dari Semarang  ke Bogor, Bekasi, Malang, Jombang, Gresik.  Ke luar Jawa belum sempat dicoba.

UPDATE :
Saya merubah counterpoise diperpendek menjadi hanya sepanjang 2 meter, tetap bisa dituning secara sempurna menjadi 50 ohm tanpa kesulitan. Percobaan transmit dalam bulan Ramadhan 2013 dengan kondisi QRM tebal dapat diterima dan berkomunikasi dengan baik sampai ke BALI ( ? ).

UPDATE :
Mengevaluasi kembali performance pancaran dari antenna EFHW + Tunernya yang masih belum memuaskan, saya ganti rangkaian tuner menggunakan L-Match yang sekaligus berfungsi sebagai Low Pass Filter. Lumayan hasilnya, antenna tetap bisa di-tune dengan baik dan bisa digunakan komunikasi tembus ke Jambi.

Rangkaian L-Match ini bisa menjembatani impedansi output pemancar 50 ohm ke impedansi antena antara 300 ohm s/d 5000 ohm.

Skema rangkaian seperti di bawah ini, untuk indikator tetap menggunakan seperti di atas.

EFHW L-Match Skema

EFHW L-Match Foto-1

EFHW L-Match Foto-3

Antenna bisa dituning dengan baik pada beberapa posisi tap, dengan putaran varco yang berbeda. Silahkan dipilih yang memberikan hasil paling baik.

UPDATE :
Saya pernah mencoba tuning antena ini berdasarkan indikasi power output.  Antena dituning melalui perubahan L dan C sampai power yg terbaca pada Field Strength Meter maksimum.  Setelah dicoba dipancarkan ternyata hasilnya tidak maksimal.  Akhirnya saya kembali ke setting melalui indikator LED yaitu dituning sampai LED mati, hasilnya kembali seperti semula yaitu MEMUASKAN.

Selamat mencoba ! ! !

z

About jagawana80m

Mencoba menikmati dunia amatir melalui eksperimen.

Posted on 17/07/2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 17 Komentar.

  1. Wah, selamat atas keberhasilan bikin ini antenna matcher😀, … dengan konsep serupa saya juga buat lho, saya namain antenna tunner odong-odong, dan untuk buatan saya pakai desain CLC tuner, cuma belum saya pernah coba buat transmit, tapi saya gunakan untuk receive pakai radio SDR. lumayan ada antenna tuner, gain dari penerimaan juga kita bisa atur.
    Maju terus Wak Bob,
    ditunggu karya-karya selanjutnya yang lebih cetar membahana😀

  2. aku mbuat pakai toroid Amidon T50-2 kok SWR gak pernah mau turun yaaa…. ngaceng terus

    • Coba dicek induktansinya om, untuk yang 9 lilitan sekitar 4,55 uH ke ground sehingga tap yang ke antenna sekitar 45 – 50 uH. Jumlah lilitannya menyesuaikan dengan inti yang dipakai. Kapasitornya anda pakai tipe apa dan bagaimana dihubungkan dengan koilnya ?

  3. Om CQRADIO silahkan dicek dulu menggunakan resistor 4k7 pada output ke ground. Kemudian di tuning sampai led mati, ditandai posisinya. Selanjutnya hubungkan antena 1/2 lambda, coba dituning. Seharusnya letaknya kurang lebih pada titik yang ditandai tadi. Jika agak jauh kurang atau lebih berarti panjang antenna belum sesuai dengan frekuensi pancarannya.

  4. hebad pakde.. berkarya terus…

  5. antena ini kalau utk tx am 80meter bisa ga boss?

  6. hehehe … selamat om Asep dengan L-match nya (separo phi section favorit saya) … sejak semula saya “meragukan” yang menggunakan inti ferit … pasti terjadi “ngowosisasi” daya …

    • Betul sekali om Yono, banyak jalan ke roma kalau ngowos ya pakai yang loss-nya kecil. Tidak pakai LPF langsung ke L-match sekaligus berfungsi low pass filter seadanya hehe . . .

  7. UNTUK TX 80M RANKAIAN ATU NYA HARUS DIROMBAK SEPERTI APA OM BOB..SAYA MAU COBA NIH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: