VARCO LOYANG
Banyak rekan kesulitan mencari varco logam khususnya yang mempunyai spasi antar pelat cukup lebar. Biasanya varco jenis ini digunakan untuk tuning bagian Final pemancar sebelum masuk ke Antenna.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat membuat varco dengan bahan pelat alumunium tipis, asal bahan dari loyang persegi yang biasa digunakan kaum ibu untuk membuat kue kering. Kalau anda punya akses membeli pelat alumunium lembaran ya tidak usah pakai loyang hehehe . . .
Dimensi varco loyang yang saya buat adalah 12 cm x 10 cm x 6 cm, terdiri dari 12 pelat rotor dan 13 pelat stator. Penyambung antar pelat dan poros tengah adalah spacer panjang 1 cm yang biasa digunakan untuk menyangga PCB atau kit rangkaian elektronika pada saat pemasangan pada box-nya.
Pengukuran menunjukkan nilai kapasitansi 45 pF – 140 pF, lebar spasi antar pelat 3 – 5 mm, sudah cukup lebar untuk tuning bagian Final pemancar dan dijamin tidak akan menimbulkan cipratan bunga api.
Apabila dibutuhkan kapasitansi yang lebih besar dapat disiasati melalui penambahan kapasitor paralel, dianjurkan yang bertegangan tinggi (saya pakai antara 100 pF sampai 470 pF / 1 kV di switch pakai saklar putar.
Cara pembuatan silahkan dibayangkan dari foto-foto berikut ini :
Tampak depan ni Bosss
Tampak belakang dan detail pelat kontak pada bagian poros/as. Pelat diambil dari bagian dalam stop kontak listrik.
Detail penggunaan spacer. Seandainya ada yang lebih pendek dari 1 cm kapasitansi bisa sedikit dinaikkan.
Begitulah kira-kiranya ya Bro, tetapi harap diingat bahwa mekanisme putaran varco ini tidak sehalus buatan pabrik sehingga kurang cocok kalau dipakai untuk tuning oscillator ( Oscillator apa yg butuh varco segede ini ya hehehe . . .)
Selamat mencoba.
PIC Programmer / Downloader
PIC adalah satu set komputer yang dikemas dalam sebuah IC. IC PIC digunakan dalam rangkaian radio antara lain untuk Frequency Counter, Frequency Locked Loop untuk mendapatkan oscillator yang stabil, SWR Meter dan lain-lain. Potensi penggunaan PIC tidak terbatas dan semua tergantung program yang disusun dan dimasukkan ke dalam memory-nya.
Bentuk program yang diinjeksikan ke dalam PIC adalah berupa file HEX dan alat yang digunakan untuk memasukkan program ke dalam memory PIC disebut PIC Programmer atau PIC Downloader. Banyak sekali macam PIC Programmer yang bisa anda peroleh skemanya dari internet, termasuk juga yang sudah berupa kit, namun demikian saya mencoba membuat satu dan sudah berhasil dicoba yaitu yang ada di bawah ini.
Rangkaian dibuat berdasarkan skema MkV PIC Programmer bisa dilihat referensinya disini :
http://talkingelectronics.com/projects/Pic%20ProgrammerMkV%2012%20Parts/PicProgrammer-12Parts.html
Perlu diperhatikan ketika membuat rangkaian ini disarankan sambil melihat ilustrasi berupa gambar yang dicantumkan karena gambar sket terminal DB9 pada skema adalah penomoran lubang tampak depan sedangkan penyolderan kabel adalah pada bagian belakang soket.
Catatan : Dalam percobaan ini di laci saya tidak ada resistor 4k7 jadi saya pakai resitor 3k9. Saya juga tidak punya 15k jadi saya pakai 12k. Bisa juga tuh hehehe . . .
Pic Programmer di atas dipasang pada serial port Personal Computer.
Saya menggunakan OS Windos XP Service Pack 3 dan software yang digunakan adalah WinPic800.
http://www.winpic800.com/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=18&Itemid=64&lang=en
Setelah instalasi silahkan pilih bahasa yang digunakan sehingga tampilan program dapat dipahami. Selanjutnya masuk ke setting hardware pilih jenis “JDM Programmer”, siap digunakan.
Keuntungan menggunakan WinPic800 adalah kita tidak perlu menginstall program atau utility sistem tambahan, berbeda dari program IC-Prog, misalnya.
Jenis IC yang telah saya coba untuk diprogram adalah PIC 16F84A dan 16F628A tanpa kesulitan untuk menghapus, memasukkan program maupun proses verifikasi dan membaca hasilnya dapat dijalankan dengan lancar.
UPDATE :
Saya menggunakan mode “Verify during programming” dengan hasil proses lebih lambat tetapi seluruh tahap pemrograman dapat diverifikasi dengan baik. Artinya kita lebih yakin bahwa setiap tahap sudah berhasil dan IC PIC pasti terprogram sesuai file HEX-nya.
Selamat mencoba.
Software Defined Radio ( SDR )
Penasaran dengan wacana radio SDR yang digulirkan rekan senior amatir radio membawa saya mencoba membuat sebuah. Untuk permulaan masih berupa radio penerima dengan dasar rangkaian penerima HF Monoband tipe DR2C dari om Tasic Sinisa / Tasa ( YU1LM ).
Rangkaian skema asli tampak rumit tetapi sesudah diterjemahkan kepada bentuk fisik IC menjadi lebih sederhana. Selain IC CMOS yang digunakan maka komponen lainnya berupa komponen yang mudah diperoleh dan murah harganya, bahkan IC-nya juga murah saja harganya.
Prototipe rangkaian dibuat pada papan PCB dengan metode Ugly SMD, komponen disolder langsung pada jalur tembaga tanpa ada proses pengeboran. Ukuran sengaja tidak dibatasi untuk kemudahan pengerjaan dan untuk modifikasi lebih lanjut.
Kebetulan saat membuat ini saya tidak punya koil / induktor 100 uH jadi saya ganti pakai koil IF 455 kHz warna hitam, kapasitor aslinya dibuang. Saya ukur induktansinya 600 uH dipakai saja tidak terlalu berpengaruh.
Rangkaian sudah dicoba menggunakan antenna random wire 23 m, oscillator lokal Vackar 3,2 – 7,8 MHz dan software SDRadio ( dikembangkan OM Alberto I2PHD ), pada Netbook Toshiba NB305, OS Windows7 Starter. Output SDR dihubungkan ke Mic input ( mono ) sehingga pengaturan belum bisa optimal.
Hey, it works ! ! ! !
Banyak yang malas bikin rangkaian ini karena katanya terlihat rumit pada skema aslinya. Coba lihat hasil saya di atas kan tidak rumit.
Skema yang sudah disederhanakan silahkan dilihat berikut ini :
Bersambung berikut ini :
Bagaimana, tidak rumit kok asal disolder satu persatu jangan sekaligus semuanya.
Dicoba aja Bro, bisa kok punya SDR yang murah.
UPDATE :
Saya ganti software HDSDR dan pada pengaturan soundcard komputer masuk pada Line In, bukan Mic. Ternyata hasilnya jauh lebih bagus dan bisa monitor dengan baik.
QRP TX #2, Power = 3 Watt
Dasar rangkaian yang saya gunakan kali ini diambil dari Linier Amplifier untuk BITX dari OM Yoke (YC3LVX). Asumsi pemilihan adalah karena rangkaian dirancang linier pada mode SSB mestinya bisa dipakai juga untuk mode AM.
Rangkaian kurang lebih sebagai berikut, beberapa bagian sudah saya modifikasi.
Dalam percobaan ini supply untuk Final digabung dengan Driver sebesar 12 Volt, Low Pass Filter belum dipasang.
HASIL PERCOBAAN :
1. Percobaan awal bias Mosfet distel sehingga arus drain 100 mA. Tegangan output sampai 108 Volt, dummy load 53 ohm tidak panas. Diduga ada masalah pada bias Mosfet sehingga tidak optimal. Selanjutnya bias diturunkan sehingga arus drain sekitar 10 – 20 mA saja.
2. Frekuensi output pada C kopling final ternyata besarnya 2 x frekuensi oscillator, berarti ada resonansi pada output Mosfet. Koil L3 diganti dengan yang nilai induktansinya lebih besar, 25 lilit kawat email pada ferit tubing induktansi sekitar 1 mH. Pengukuran ulang menunjukkan setelah L3 diganti maka frekuensi output sudah sesuai dengan frekuensi oscillator.
3. Tuning dari frekuensi terendah ke frekuensi tertinggi menunjukkan frekuensi output bisa melonjak naik atau turun tidak linier, berbeda dengan frekuensi oscillator yang sudah linier. Solusinya dengan merubah resistor pada emitor TR1 semula 22 ohm menjadi 47 ohm, rangkaian RC pada emitor TR2 ditiadakan dan resistor pada emitor TR2 dirubah dari 22 ohm menjadi 39 ohm. Setelah dilakukan perubahan maka tuning sudah linier sesuai frekuensi oscillator.
4. Output pemancar walaupun tegangan RF-nya besar tetapi pada dummy load 53 ohm tidak panas, berarti impedansi output belum sesuai. Setelah dihitung di atas kertas seharusnya impedansi rangkaian berkisar belasan ohm, dicoba dengan dummy load 15 Ohm bisa terasa panas. Untuk menyesuaikan impedansi output menjadi sekitar 50 ohm dipasang L8 untuk menaikkan impedansi output. Pada input L8 dipasang resistor 470 ohm agar beban Final Mosfet lebih stabil dan tidak terjadi osilasi.
Percobaan pada output L8 dipasang resistor 47 ohm sudah bisa panas, demikian juga sesudah LPF dipasang secara lengkap pada outputnya diberi dummy load 47 ohm juga bisa panas.
Pengukuran terakhir menunjukkan tegangan RF sebelum Low Pass Filter adalah 20 Volt dan tegangan RF output sesudah LPF sekitar 17 Volt, atau identik dengan power output sekitar 2,8 – 3 Watt. Sudah cukup besar jika akan digunakan sebagai exciter bagi Linear Amplifier Push Pull dengan Mosfet.
Power output bisa ditingkatkan dengan menaikkan bias Mosfet tetapi harus dipertimbangkan efisiensinya dibandingkan besarnya daya DC yang digunakan.
z
VFO Stabilizer
Percobaan VFO Stabilizer baru dikerjakan, dengan membuat dua jenis stabilizer yang ditawarkan Hans Summers yaitu :
1. One Chip Huff & Puff stabilizer dengan IC 74HC4060.
2. Huff & Puff Stabilizer + VFO dengan IC 74HC4060 dan 74HC74.
Secara umum dapat saya sampaikan bahwa kedua stabilizer ini terutama ditujukan untuk VFO dengan output gelombang persegi, sementara jika input menggunakan VFO analog hasilnya kurang optimal.
Rangkaian yang sudah dibuat tidak bisa langsung dioperasikan dengan stabil, masih perlu coba-coba merubah nilai R dan C untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pada umumnya terjadi drift atau pergeseran frekuensi naik dan turun dengan cepat pada kisaran puluhan dan ratusan hertz, tidak bisa segera stabil pada satu frekuensi. Kadang-kadang frekuensi bisa berubah secara acak sampai kisaran ratusan hertz sebelum kembali ke kisaran semula.
Pengalaman ini mungkin juga disebabkan VFO yang saya gunakan menggunakan komponen R dan C yang tidak dipilih khusus untuk menunjang kestabilan VFO. Ada kemungkinan juga frequency counter saya saat mengukur belum stabil atau kemasukan frekuensi liar karena kabel input yang kurang memenuhi syarat.
Report detail masih disusun, rangkaian masih dicoba-coba dengan merubah nilai komponen dan diuji minimal 6 jam untuk melihat perubahan yang terjadi.
Sabar dulu ya Bro . . .
UPDATE :
Percobaan merubah nilai komponen menghasilkan :
1. Perubahan frekuensi menaik atau menurun menuju titik “stabil” bisa cepat atau agak lambat, tergantung nilai C seri 2 x 200 uF, saya rubah satu buah yang dekat ground jadi 100 uF atau 47 uF.
2. Koreksi naik turun frekuensi di sekitar titik “stabil” dipengaruhi capacitor kopling antara LED dengan R menuju oscillator ( C = 330 pF ). Saya ganti dengan 5 pF perubahan menjadi lebih halus ( puluhan Hz ) dan stabil lebih lama.
3. Diamati berjam-jam tidak bisa “nyender” pada satu titik, tetap naik turun dengan kisaran +/- 1 kHz kira-kira ( pelan pelan naik, kemudian ganti pelan pelan turun, satu jam bisa 3 x PP kayak angkot ).
4. Saya bandingkan dengan oscillator Vackar, 10 menit sudah nyender dan pergeseran pada puluhan Hertz naik turun dalam waktu lama.
Ada satu percobaan yang menunjukkan hasil stabil sekali, drift naik turun hanya plus minus 1 Hz (satu Hertz) sejak dihidupkan sampai berjam-jam lamanya, yaitu dengan menggunakan . . .
Kristal 4,4 MHz ( BIG SMILE hehe hehe ). Sayangnya ketika dicoba tuning hanya mampu bergeser sekitar 800 Hz saja.
Rangkaian oscillator saya pakai koil bekas IF warna biru digulung ulang 40 lilit, dengan varco 2 x 30 pF diseri. Jika varco digunakan yang 2 x 300 pF hasilnya juga tidak jauh berbeda spread frekuensinya.
Pelindung PCB Homebrew (Jus Gondorukem)
Permasalahan yang saya hadapi setelah membuat PCB homebrew adalah setelah dibiarkan beberapa waktu maka lapisan tembaga PCB akan teroksidasi. Permukaan logam yang semula mengkilap menjadi kusam dan berubah warna kadang-kadang menjadi kehitaman. Rangkaian yang sudah jadipun dengan berjalannya waktu lapisan PCB-nya akan teroksidasi, terlebih dalam kondisi lembab bisa muncul karat berwarna kehijauan.
Dulu sewaktu masih SMP saya sering membaca di majalah Elektron ada spray khusus pelapis PCB buatan Jerman dengan fungsi melindungi lapisan tembaga dari korosi dan memudahkan proses penyolderan, tetapi waktu itu tentu hanya menjadi angan-angan saja bagi saya untuk memilikinya.
Ketika saya memulai lagi hobi homebrew ini permasalahan yang sama muncul kembali, tetapi kali ini saya bisa terbantu oleh kehadiran internet dengan beraneka ragam informasi di dalamnya.
Saya sudah lupa dimana memperoleh informasi ini tetapi saya sempat membaca cara melindungi PCB menggunakan gondorukem, saya coba dan saya praktekkan yaitu sebagai berikut :
1. Ambil botol kaca / gelas ukuran 100 ml kurang lebih. Cari yang ada tutupnya logam berulir. Punya saya pakai botol bekas obat batuk hitam, silahkan pakai botol bekas apa saja tidak akan mempengaruhi hasilnya.
2. Isi botol dengan thinner untuk cat kira-kira 80 %, pokoknya tidak penuh begitulah kira-kira.
3. Ambil gondorukem, atau di toko besi / bangunan kadang-kadang disebut siongka (salah satu campuran untuk plitur). Bentuknya berupa kristal berwarna kekuningan. Jumlahnya yang dibutuhkan jika dipadatkan kira-kira berukuran 1 cm x 1 cm x 1 cm. Hancurkan sehingga berbentuk tepung halus. Caranya bisa ditumbuk (resiko sebagian hilang terlontar kemana-mana), atau diiris/dikikis sedikit-sedikit menggunakan pisau.
4. Masukkan sebagian bubuk gondorukem ke dalam botol berisi thinner lalu botol ditutup rapat dan dikocok-kocok sampai kristal gondorukem larut. Demikian terus diulangi sampai bubuk gondorukem habis atau mulai ada kristal yang tidak larut. Selesai.
5. Beri label pada botol dan tulisan peringatan, kemudian simpan di tempat yang aman jauh dari jangkauan anak-anak. Jangan sampai larutan ini diminum secara tidak sengaja.
Gambar : Gondorukem ( Gum Rosin ) Contoh Produksi Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani). Berasal dari pemasakan getah pohon Pinus merkusii.
Cara penggunaan larutan ini adalah dengan dioleskan merata pada permukaan tembaga PCB homebrew dengan menggunakan kuas. Setelah beberapa menit maka permukaan PCB akan mengering dan tampak mengkilap indah sekali dan terhindar dari korosi. Waktu PCB digunakan dan kita menyolder kaki-kaki komponen akan lebih mudah, tidak perlu menambah gondorukem lagi sebagai teman bagi timah solder. Pengolesan larutan otomatis akan menghapus bekas-bekas sidik jari, bekas telapak tangan atau bekas telapak kaki waktu menggergaji PCB sehingga hasilnya pasti kinclong, mengkilat Broo . . .
Jangan lupa larutan ini sebelum diminum, eh . . . sebelum digunakan, harus dikocok dulu agar kekentalannya merata dan hasil olesannya pada PCB juga seragam.
Demikian rekan-rekan, sekedar mencatat kembali untuk acuan sewaktu-waktu dibutuhkan, semoga bermanfaat.
Catatan :
Jumlah 100 ml ini buat saya sudah cukup banyak dan rasanya tidak habis-habis, silahkan kalau ada yang akan membuat 1 liter hehehe . . .
Dilarang pakai botol bekas Mansion House atau Vodka atau Topi Miring. Baru pakai botol OBH saja gambarnya sudah goyyyangng begini nih . . .
RFC Homebrew
Rekan sekalian yang baru akan mulai menggarap pemancar AM 80m Band pasti menemui skema-skema jaman dulu yang menuntut kita menggunakan Radio Frequency Choke (RFC), biasanya dengan nilai 2,5 mH dengan kemampuan arus 100 mA, 200 mA, 300 mA atau 500 mA. Kendalanya adalah sekarang kita sulit sekali menemukan komponen RFC tersebut di toko elektronik. Apakah kita bisa membuat sendiri, mari kita coba bereksperimen :
1. Kawat email 0,7 mm digulung pada ferit batang. Dibuat dulu wadah untuk menggulung, panjang 3 cm tebal 0,5 cm, diameter lubang tengah untuk inti ferit = 1 cm. Digulung sembarangan bertumpuk kira-kira 250 lilit (Koreksi pada update di bawah). Nilai induktansi sekitar 4 mH. Untuk menggantikan RFC 500 mA cukup memadai, tinggal jumlah lilitan disesuaikan (dikurangi sedikit gitu Brow . . . ).
2. Kawat email 0,3 mm digulung pada ferit panjang sekitar 2 cm, 200 lilit baru menghasilkan 1,1 mH. Coba nanti lilitannya kita tambah lagi. Sabaaar gitu ya Bro …. Mestinya RFC yang ini bisa menggantikan yang sekitar 200 mA.
Selanjutnya lihat update di bawah.
Bagaimana saya membuatnya :
Untuk mempermudah pekerjaan, saya tidak membuat koker atau kelos khusus untuk menggulung kawat, cukup bikin pinggirannya dari potongan PCB. Silahkan tonton gambarnya.
Bagian tembaga yang lebar untuk menyolderkan kawat email dan hubungan ke bagian-bagian lain sehingga lilitan tidak terganggu. Bagian bawah yang sempit disolderkan ke PCB induk sebagai “kaki” RFC yang tidak berhubungan dengan koil-nya ( cuma berfungsi menempelkan koil ke PCB induk ).
Di bawah ini yang 250 lilit kawat email 0,7 mm digulung acak-acakan pada ferit panjang 3 – 4 cm.
Koil yang sama dg di atas, dikurangi 100 lilit.
Yang dibawah ini pakai kawat 0,3 mm, baru 200 lilit pada ferit 2 cm . Bisa langsung dipakai kalau rangkaian minta induktor 1 mH.
KOREKSI TERBARU :
Dengan rasa penasaran karena koil yang dikurangi lilitannya tidak sebanding dengan catatan awal maka RFC dibongkar dan dihitung ulang.
1. RFC dengan kawat email 0,6 – 0,7 mm, digulung acak pada ferit panjang 3 – 4 cm, jumlah lilitan adalah 300 lilit induktansi = 2,6 mH. Setelah digulung ulang jumlah 300 lilit dibagi menjadi 3 bagian, induktansi sekitar 2,8 mH.
2. RFC dengan kawat email 0,3 mm, digulung acak pada ferit panjang 2 cm, jumlah lilitan sudah ditambah menjadi total 300 lilit induktansi = 3,2 mH.
Setelah lilitan dikurangi menjadi 270 lilit maka induktansi menjadi 2,6 mH.
Tentang kapasitas arus, jika dibandingkan dengan RFC 2,5 mH 100 mA tebal kawat emailnya kira-kira hanya 0,1 atau 0,15 mm tentunya RFC homebrew di atas kapasitas arusnya jauh lebih besar.
PALING TERBARU :
RFC 100 mA dibuat pada ferit panjang 1 cm, kawat email 0,1 mm ? ?, jumlah lilitan 250 lilit setelah diukur nilai induktansi 2,2 mH. Kawat email setebal rambut, kalau tidak salah berasal dari bongkaran trafo adaptor 500 mA bagian primer (tap 110/220 Volt).
Percobaan awal 350 lilit = 4,4 mH.
Lilitan dikurangi 100, induktansi menjadi 2,2 mH sudah cukup memadai untuk menggantikan yang 2,5 mH.
KESIMPULAN :
Pembuatan RFC alternatif dengan induktansi mendekati 2,5 mH, dengan kapasitas arus :
a. 100 mA = 250 – 270 lilit kawat email halus ( 0,1 mm ??? ) pada batang ferit dengan panjang 1 cm.
b. 200 – 300 mA = 270 lilit kawat email 0,3 mm pada batang ferit dengan panjang 2 cm.
c. 500 mA (lebih) = 280 – 300 lilit kawat email 0,6 – 0,7 mm pada batang ferit panjang 3 – 4 cm, gulungan dibagi 3 kamar masing-masing 100 lilit.
Pada semua RFC ini kawat email digulung secara acak, asal-asalan maju mundur ke atas ke bawah terserah anda, gitu Bro . . .
Berapa nilai induktansi RFC 2,5 mH 100 mA ?
TRIO RFC didampingi penduduk asli RFC 2,5 mH 100 mA :
Perbandingan anggota RFC Homebrew terbesar dan terkecil :
Vackar Oscillator #2 : Very Low Noise
Membuat oscillator Vackar dengan transistor 2N3904 merupakan pengalaman yang menyenangkan, sementara percobaan untuk meningkatkan dengan menggunakan FET mengalami kegagalan. Selanjutnya saya mencoba membuat rangkaian Vackar Oscillator hasil disain Iulian Rosu (YO3DAC / VA3IUL – http://www.qsl.net/va3iul/ ) yang dimuat dalam tulisan berjudul “Very Low Phase Noise Vackar VFO for HF Transceivers”. Seperti biasa, saya menyesuaikan dengan stock komponen yang ada di laci saya.
Sementara rangkaian digambar, silahkan unduh artikel aslinya dulu ya, Bro . . .
Kumparan pembangkit frekuensi saya buat menggunakan 50 lilit kawat email 0,3 mm pada koker silinder plastik diameter 8 mm, sama dengan pada oscillator Vackar sebelumnya. Varco menggunakan varco besi cukup 1 gang saja.
L2 = 30 lilit kawat email 0,3 mm pada ferit batang.
L3 = L4 = 2,5 mH 100 mA, saya copot dari rangkaian pemancar yang tidak terpakai.
L5 dan L6 = dililit pada ferit balun TV menggunakan kawat email 0,3 mm, primer 20 lilit dan sekunder 5 lilit.
L7 = kawat email 0,6 mm 5 lilit diameter kumparan 1 cm, tanpa koker.
L8 = 9 lilit, sama dengan L7.
Transistor saya gunakan BD 139 untuk jenis NPN dan BD 140 untuk PNP.
Power supply + 9 Volt melalui IC 7809.
Hasil Percobaan :
Sinyal terdengar halus pada radio kempitan, bisa dituning dengan mudah frekuensi antara 3,5 MHz sampai 5,0 MHz ( kurang dan lebih, varco belum sampai mentok ).
Rangkaian tampak agak rumit tetapi pastinya tidak akan mengecewakan anda.
Update :
Percobaan oscillator ini pada beberapa rangkaian driver ternyata membawa getaran samping yang mengotori frekuensi lain pada penerima. Diduga disebabkan metode konstruksi atau nilai komponen yang kurang tepat khususnya pada bagian trafo kopling dan filter. Masih diperlukan percobaan lanjutan supaya hasilnya maksimal.
Untuk sementara saya kembali ke oscillator Vackar dengan 2N3904 sebagai andalan dalam percobaan.
Series Modulator PWM a la WA7JHZ
Rangkaian Modulator Seri dengan LM741 sangat baik dipergunakan untuk power rendah serta menengah. Untuk power besar diperlukan rangkaian lain, salah satunya saya lihat tercantum pada skema-skema pemancar eksperimen David Forsman (WA7JHZ). Ada beberapa skema pemancar dengan level output yang berbeda tetapi rangkaian modulatornya relatif sama. Skema modulator yang saya coba, dengan nilai komponen disesuaikan dengan yang ada di laci saya, adalah sebagai berikut :
Ini dia rangkaiannya, dicoba dengan lampu bohlam sepeda motor 12 Volt / 35 Watt bisa menyala terang seirama modulasi. Tegangan pada output antara 3 Volt sampai 22 Volt dengan supply 22 Volt, diatur dengan potensio 10k pada IC TL 494.
Video percobaan bisa dilihat di bodolanradio80@groups.facebook.com.
FET sebaiknya diberi heatsink dan kipas karena pada tegangan ouput maksimum menjadi sangat panas. Pada tegangan output sampai 12 Volt cukup hangat saja tidak usah dirisaukan.
Rangkaian yang beroperasi bisa terdengar pada radio kempitan ( suara kecil tidak jelas), diduga karena induksi trafo ( T1 ). Namun demikian pengetesan pada Tx QRP hasil pancaran modulasi baik dan tidak ada harmonik.
Hasil Percobaan :
1. Rangkaian ini boleh dibuat dan bisa dipakai, silahkan dicoba menggunakan tegangan tinggi sebagai supply.
2. Nilai resistor 2 Watt pada rangkaian asli adalah pada skema A ( 220 ohm dan 2 x 100 ohm ) serta pada skema B ( 300 ohm dan 2 x 150 ohm). Saya tidak punya resistor senilai tersebut sehingga dipakai (470 ohm dan 2 x 220 ohm).
3. Dioda di bagian akhir rangkaian saya peroleh dari bongkaran Switching Regulator bekas. Apabila sulit mendapatkan yang sejenis mungkin bisa dicoba dioda 1N4148 diseri sampai tegangan yg sesuai dan diparalel sampai arus yang sesuai ( bingung ? hehehe . . . . ini belum saya coba ).
4. Setting awal pada saat mencoba sebaiknya potensio volume distel minimum dan potensio power diatur di tengah, cek tegangan output menggunakan AVO meter. Stel tegangan output maksimal 50 % dari tegangan supply ke Mosfet selanjutnya potensio volume disesuaikan sampai diperoleh modulasi yang seimbang.
Setelan potensio power : putar kanan tegangan output rendah, sedangkan putar kiri tegangan output tinggi (kebalikan dari potensio volume).
5. Tidak dianjurkan mengatur tegangan output mendekati tegangan supply ke Mosfet. Diduga dengan tegangan drive yang terlalu besar menyebabkan Mosfet “ON” dan berfungsi sebagai switch/saklar sehingga tidak bisa dimodulasi.
6. Apabila terjadi kesalahan setting sehingga terjadi tegangan terlalu tinggi atau arus terlalu besar ada kemungkinan rangkaian mati tiba-tiba. Jangan panik kawan, silahkan bersabar ditunggu sampai Mosfet dingin dan dicoba dihidupkan lagi, besar kemungkinan dia masih berumur panjang. Kemungkinan mati suri-nya rangkaian adalah adanya proteksi atau pengamanan dari IC TL 494.
Jangan lupa, sebelum menghidupkan kembali agar potensio diatur ulang seperti keterangan saya sebelumnya pada nomor 4 tuh lihat di atas.
Apabila masih belum berfungsi silahkan lepaskan hubungan dari T1 ke gate kedua Mosfet kemudian coba dihidupkan lagi. Apabila rangkaian mau hidup berarti Mosfet sudah korslet silahkan diganti saja. Apabila rangkaian tidak mau hidup besar harapan masih diberi panjang umur tinggal sedikit bersabar menunggu dia bangun dari KOMA. Sesudah dingin coba dihidupkan lagi.
Apabila sesudah dingin masih belum hidup juga berarti itu kelalaian Anda terlambat memberikan pertolongan napas buatan kepada pasien sehingga Mosfet terlanjur mati putus, silahkan ganti yang baru.
7. Perhatikan elco pada filter, sebaiknya dicari yang lebih besar dari tegangan +VCC. Boleh jadi pada saat pengaturan anda menyetel potensio power sampai mentok ke kiri sehingga tegangan output = +VCC. Jika tegangan elco lebih rendah maka dalam waktu singkat elco bisa meledak, kemungkinan selanjutnya Mosfet ada yang putus atau korslet. Percayalah, saya sudah merasakannya hehe hehe . . . .
Saya pakai VCC + 50 Volt, tegangan output power supply bisa mencapai 60 Volt. Rangkaian PWM bisa berfungsi memodulasi pemancar Mosfet dengan arus sampai 4 Ampere tegangan pada Final 30 Volt.
Pendingin / heatsink Mosfet diganti dengan heatsink alumunium dari PSU komputer, satu keping untuk dua Mosfet. Mosfet dipasang tanpa isolasi mika dan kabel +VCC dibaut langsung pada heatsink. Heatsink tidak boleh menyentuh box atau terhubung dengan ground.
Selamat mencoba. Berani mencoba, berani berhasil ! ! !
NB : Seandainya Anda belum pernah menyaksikan kematian sebuah Mosfet, ada dua kemungkinan penyebab kematian yaitu mati putus atau mati korslet. Penyebab kematian kedua bisa menyebabkan kematian menular pada power supply dan luka bakar parah pada trafo. WASPADALAH.
Pasang selalu pengaman sikring dengan kapasitas arus yang sesuai.
UPDATE :
Info dari Om Andy K. Rizal (andelumut) potensio carrier 10k bisa diganti 50k untuk pengaturan tegangan lebih optimal. Untuk kualitas audio yg lebih baik bisa dengan merubah nilai C kopling menuju IC pre amp mic. Terima kasih Om Andy.
































